Ayo Berdonasi untuk Pendidikan

Semua manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk mengubah hidup orang lain. Memberi adalah salah satu kemampuan itu. Mari bersama-sama wujudkan mimpi adik-adik di sudut negeri untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

KLIK DISINI






 đź“Ł Halo Sobat KUNers:)


Apa kabar semuanya? 
Komunitas Koin Untuk Negeri Cabang Palopo membuka pendaftaran calon relawan Sekolah Jejak Nusantara Angkatan XI.

Kegiatan Sekolah Jejak Nusantara kali ini berlokasi di SD Negeri 652 Poringan, Dusun Poringan, Desa Poringan, Kab. Luwu Kec. Suli Barat. Pendaftaran calon relawan Sekolah Jejak Nusantara (SEJARA) telah dibuka mulai tanggal 4-13 Desember2022 dan akan melalui beberapa tahapan agar kakak-kakak dapat mengabdi dan menginspirasi adik-adik disana selama 4 hari mulai tanggal 22-25 Desember
2022.
Penasaran dengan keseruan belajar dan bermain bersama mereka?
Ayo daftarkan diri kamu dan mari bersama-sama mengukir senyum diwajah adik-adik di pelosok :)
Salam Menginspirasi.

JANGAN LUPA UNTUK MENGIKUTI SEMUA PERSYARATAN.




 

BANGKU SEKOLAH DI UJUNG PELOSOK “PORINGAN”

Assalamualaikum Wr Wb…

Perkenalkan nama saya Muh. Al Qadri Syawal, Berasal dari kota Palopo Sulawesi Selatan, beralamatkan Jl. Dr. Ratulangi, No. 04, hobi saya yaitu memancing ikan dan makanan khas  dari daerah saya sering di sapa “kapurung”…

 

Mulailah cerita petualangan kecil saya di pelosok bumi sawerigading. Tepatnya di kabupaten luwu, kecamatan suli barat, desa poringan. Dimana di tempat ini kaki dan tangan saya di uji untuk bertindak lebih sebagai tenaga pengajar yang di kenal sebagai “pahlawan tanpa jasa” sedikit bergurau hehehee…

Jauh dari dataran biru (laut), desa poringan ini sendiri mempunyai sedikit keunikan di dalamnya ialah mempunyai masyarakat yang bersuku luwu dan bugis meskipun desa poringan ini sendiri terletak di kabupaten luwu. Awalnya saya agak bingung pada saat saya dan teman – teman KUN menginjakkan kaki di desa tersebut, di karenakan bahasa daerah yang di pakai masyarakat di atas terkadang tercampur aduk antara bahasa daerah luwu dan bugis, ini sedikit lucu bagi saya, bahasa luwu dan bugis di kemas dalam satu mulut dan itu menjadi pelajaran penting bagiku.. yang saya garis bawahi disini yaitu “BAHASA”, ini bukan persoalan transmigrasi, bukan letak posisi daerah, Melainkan bagaimana kita bertoleran dan bersilaturasa dengan adat istiadat seseorang yang kita jumpai…

Tidak jauh dari kata pendidikan. Melatar belakangi sekolah di desa poringan itu sendiri dulunya di kenal sebagai sekolah “kelas jauh” yang sudah beralih status menjadi sekolah negri. Meskipun sudah beralih menjadi sekolah negri, namun ruangan kelas di sekolah poringan tersebut masih dua ruangan yang berisikan enam kelas siswa di atas. Kata salah satu masyarakat di atas dulunya sekolah tersebut adalah bangunan pribadi yang didirikan dalam bentuk papan dan kayu dan beralaskan tanah.

Terlepas dari itu dimana goresan tinta dan keringat bersatu padu untuk membangkitkan semangat para adik adik yang ada di pelosok, tawa dan petikan gitar mulai menghantui kabut “poringan” di malam itu. Mungkin ini terbilang singkat mengibahkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk bermain dan belajar bersama adik – adik di pelosok, akan tetapi gema tawa dan kucuran air keringat yang sedikit (Bakti) itulah yang akan mereka selalu kenang di halaman sekolahnya.

Mengingat kembali suasana yang begitu riuh dihalaman sekolah, seolah pikiran dan batin itu selalu bermain dihalaman sekolah tersebut meskipun raga kami sudah tak berada disana. Meski saya bukanlah sesorang yang bisa berbicara dan bercerita sesama tumbuhan maupun hewan, akan tetapi pepohonan dan bisikan anjing – anjing itu seolah merasuki gendang telingaku dan berkata “kamu adalah orang asing disini, tapi kami senang melihatmu bersama kawanan – kawanan mu itu”, dibalik pesan perasan itu (insyallah) kami akan kembali ke tanah Poringan ini.

Cepat atau lambat hak dari semua hak akan memiliki peran dan pelaku.. di komunitas ini akan selalu ada ruang dimana orang – orang akan berkumpul dan memiliki hak dan tanggung jawab yang bertujuan untuk meraih kesejajaran pendidikan terutama di daerah pelosok negri.

Moment dimana adik – adik dan kakak – kakak saling membagi kasih dan tawa dsitu saya merasa bahwa  keresahan  dalam kelas yang begitu formal bisa diatasi dengan sesuatu yang sangat sederhana menurutku yaitu; Belajar sambil bermain…

Dan di komunitas ini mempunyai beberapa kelas yang menjadi sumber bahan ajar yaitu; kelas literasi, kelas agama, kelas inspirasi, kelas kreatifitas, dan kelas alam. Dari berbagai kelas tadi masing – masing memiliki fungsi dan rancangan pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai target yang sudah ditetapkan, seperti di kelas literasi yang bertujuan untuk menyajikan bagaimana peserta didik bisa belajar membaca dan menghitung, di kelas agama berusaha untuk bagaimana peserta didik bisa belajar mengeja dan membaca huruf hijaiyah, di kelas inspirasi ini menyajikan seperti apa itu cita – cita dan merangsang peserta didik untuk bagaimana cara meraih cita – cita meraka nantinya, di kelas kreatifitas melatih peserta didik untuk membuat suata karya yang terbuat dari bahan – bahan yang ditemukan di sekeliling lingkunganya, sedangkan di kelas alam sendiri mempelajari seperti apa manfaat dan kerugian merawat alam itu sendiri dan mempelajari pola hidup sehat seperti dari cara mencuci tangan dengan benar dan baik.     

Seiring kabut yang mulai hilang di lahap pagi dan di kenang oleh subuh, tak terasa saya dan teman – teman sudah mencapai hari akhir yaitu hari kepulangan kami ke rumah.. Sepatu yang basah kini mulai kering di tiup oleh angin siang hari, tumpukan piring kotor yang sudah mulai tersusun rapi, lantai yang awalnya di tutupi oleh debu kini di hiasi warna bersih, yang menandakan akan kepulangan kami dari Desa Poringan.. ini bukan perpisahan melainkan awal pertemuan kita ke pertemuan selanjutnya “Poringan”.

Kesan saya selama di lokasi pengabdian ialah, pertama tama saya mengucapkan banyak terima kasih kepada kakak – kakak yang telah membina saya dalam hal apapun itu selama di lokasi, entah itu melatih saya bagaimana tampil di depan adik – adik, cara menyampaikan materi di depan adik – adik harus bagaimana, dan lain – lain. Teruntuk kesan saya pribadi, rasa misterius terhadap belajar dan bermain di usia terbilang anak anak bukan menjadi misteri lagi bagi saya. Selain dari pada itu rasa senang, bahagia dan nostalgia menjadi penghias di siang dan malam tiga hari tersebut..

Adapun pesan saya untuk Komunitas Koin Untuk Negeri “Tetaplah Bercahaya Di Penjuru Pelosok Negeri”.



 

Antara Spiritualitas Cinta dan Kemanusiaan dalam Relawan Pendidikan 

Oleh : kak Aldiben 

     Tidak perlu diperdebatkan bahwa kita semua adalah makhluk yang memiliki dorongan akan melakukan kebaikan yang di sebut manusia. Dorongan itu begitu jelas bagi kita yang mampu melihat kedalam diri bahwa tujuan kita sebenarnya adalah mencapai KEBAHAGIAAN Begitupun bagi saya pribadi setiap apa yang saya lakukan pastilah demi kebahagian, namun masalahnya adalah ketika kebahagian itu harus bertentangan dengan kebahagiaan orang banyak maka akan bertentangan pula dengan kemanusiaan. Bagiku walaupun masalah ini nyata, namun selalu ada jalan untuk bisa sampai pada kebahagiaan bersama asalkan kita memiliki ketahanan dan prinsip tentang kehidupan. Itulah yang aku sebut sebagai SPIRITUALITAS. 

    Sebuah ketahanan dan prinsip hidup haruslah di bangun dengan pembiasaan dan tanpa pembiasaan akan nilai-nilai spiritual maka jiwa akan seperti seorang musafir yang berjalan ditempat dengan tujuan yang tidak akan perna ia capai. Apa yang aku maksud sebagai pembiasaan adalah PENGKONDISIAN diri dengan cara memilih sebuah sistem untuk kita tempati berikhtiar dan tunduk dan patuh pada sistem itu. Didalam sistem inilah diri di tuntut untuk membangun karakter dan spiritnya demi tujuan akan kebahagiaan. 
    
     Ada banyak cara untuk membentuk karakter mulai dari yang paling besar seperti Agama atau Negara juga yang memiliki cakupan yang lebih kecil seperti Organisasi atau Komunitas. KOMUNITAS KOIN UNTUK NEGERI bagiku selain hadir untuk menyempitkan kesenjangan antara pendidikan kota dan pendidikan pelosok juga sebagai wadah bagi setiap Relawan untuk memupuk diri menjadi pribadi yang lebih baik. 

     Selama ini kita mendengar kabar akan adanya kesenjangan pendidikan di negeri kita dan kabar-kabar yang banyak itu sudah sangat cukup untuk membangkitkan rasa kemanusiaan kita dengan berempati dan menolak akan kenyataan yang pahit ini. Namun apa yang lebih menusuk dan memukul adalah ketika kenyataan itu nampak jelas didepan mata anak-anak negeri yang riang gembira bersemangat untuk menuntut pendidikan yang tanpa mereka sadari bahwa mereka adalah objek ketidakadilan yang kita lihat di balik senyuman yang polos. Disinilah perbedaan rasa yang hadir ketika mendengar kabar dan menyaksikan langsung kesenjangan itu dan Komunitas Koin Untuk Negeri bagiku telah memberikan jalan untuk jiwa ini semakin pekah akan nilai-nilai KEMANUSIAAN. Rasa ini akan aku pupuk hingga menjadi spiritualitas. Tentu hanya dengan menjadi Relawan Pendidikan tidak akan perna cukup untuk sampai pada keseimbangan pendidikan namun setidaknya kita mampu sedikit menjadi penggerak dan motivator untuk anak-anak di pelosok. Karena selalu mungkin salah satu dari seorang anak dimasa depan menjadi seorang revolusioner untuk memperjuangkan kondisi sosial pendidikan atapun menjadi sebab lain bagi perubahan yang lebih baik. 

    Aku meyakini bahwa ketika perubahan mustahil dilakukan maka jalannya adalah mempersiapkan tokoh untuk perubahan tersebut di masa mendatang. Dilain sisi untuk hal yang paling sulit dalam gerakan semacam ini adalah konsistensi dan ketahanan. Perlu kesabaran dan perbuatan ikhlas yang harus kita dorong secara personal ke-kedalaman jiwa masing-masing yang dengan itu kualitas spiritualitas akan kita dapatkan bersamaan dengan konsistensi kita dalam mengajar anak-anak di pelosok. Tanyakanlah pada setiap Relawan apakah mereka merasa menderita melakukan perjalanan kepelosok negeri? Apakah mereka menderita mengorbankan banyak hal mulai dari waktu, tenaga, dan biaya hanya untuk mendidik anak dipelosok? Yang jelas dengan sendirinya tidak perna mendapatkan keuntungan material akan apa yang mereka usahakan. Jawabannya pasti mereka menderita namun karena kecintaan mereka terhadap anak-anak dan nilai-nilai kemanusia dibalik pengorbanan itu saya rasa mereka tidak akan perna berhenti untuk berkorban. Inilah kebahagiaan yakni merasa tahan dan tidak goyah hanya karena pengorbanan dan penderitaan dan itulah spiritualitas atas dasar CINTA. Ketika setiap perbuatan kita dilandasi oleh spiritualitas kecintaan maka kebahagiaan bersama akan terwujud karena hakekat cinta adalah berkorban demi yang dicintai. Dalam pengalaman menjadi RELAWAN PENDIDIKAN, cinta akan pendidikan dan anak didik adalah sebuah keharusan!

 


Sebuah refleksi,

Perjalanan menjadi volunteer ternyata banyak memberi pelajaran hidup. Menemukan hal yang belum pernah dirasakan dan merasakan yang selalu ada namun tidak pernah membawa                             berarti. Awal November 2022 mungkin menjadi perjalanan yang akan membawa arti dipenghujung tahun, dan langkah menutup tahun dengan penuh makna. Ini adalah kali pertama bagi saya menjadi volunteer, ya seseorang yang sukarela mengerjakan sesuatu. Apa itu artinya  saya menyesal? Tentu, tidak. Menjadi volunteer merupakan pilihan yang tidak saya sesali dan                      semoga akan terus seperti itu. Saya sebenarnya menantang diri sendiri, memasuki linkungan yang sebenarnya saya kurang nyaman. Maksudnya akhir-akhir ini saya suka menyibukkan diri sendiri dengan membaca buku, menulis, ataupun sekedar nonton sehingga merasa untuk sekedar mengobrol basa-basi dengan orang baru sepertinya akan menguras tenaga dan energi. But, here I am.

Proses menantang diri sendiri berlanjut, saya masih dalam tahap membiasakan diri untuk olahraga jadi sebuah tantangan untuk bisa menjelajah mendaki ke tempat pengabdian (walaupun itu medan yang biasa saja). Menantang diri sendiri bukan hanya dengan fiisik, namun juga manajemen emosi. Saya terbiasa dengan lingkungan orang yang biasa saja dengan muka datar, mungkin di lingkungan kampusku tidak ada yang terlalu peduli dengan muka datar, menyendiri. Tapi, di komunitas KUN sepertinya tidak. Saya merasa orang-orang menjadi sungkan untuk mendekat dan berbicara yang kemudian saya sadar bahwa karakter orang-orang                                          disini hampir sama, humble. Sudah jelas orang-orang jadi humble ya karena kita berhadapan dengan anak-anak yang banyak energi dan tanpa banyak pemikiran yang terlalu jauh. And, I am so happy to meet them in my life, they change my perspective.

Di perjalanan ini juga saya menemukan orang-orang baik. Mungkin banyak yang bilang kalau dunia semakin kekurangan orang baik dan dipenuhi orang jahhat dan licik. Tapi itu sepertinya tidak ada disini. Awalnya, saya berfikir mungkin orang-orang hanya menjalankan                                                  peran untuk mencapai tujuan mereka. Kemudian, saya sadar bahwa orang-orang mungkin tidak  terlihat baik karena penampilan, gaya bicara dan lingkungan pertemananya tapi dibalik itu ada  hati-hati yang bersih dengan mulia mau menolong. Lagi-lagi, saya belajar don’t judge people but it’s cover.

Kemudian, saya menemukan bahwa anak-anak yang caper dan sedikit menyebalkan mungkin saja kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Mereka mencari perhatian tersebut diorang-orang yang menurut mereka mungkin saja akan merespon pertanyaannya. Ini saya temukan kasus adik yang selalu saja nempel kemana relawan pergi. Ternyata, dia adalah anak yang diasuh oleh neneknya dan orang tuanya meninggal. Baahkan, setelah kami tau ternyata juga tidak punya tas. Akhirnya, saya pun mengerti tentang arti syukur yang begitu dalam. Adik itu tidak menjelaskan teori bersyukur, tapi sorot matanya lebih membuat saya paham.

Dari perjalanan ini, Komunitas KUN dengan slogan #darisudutnegerikitamenginspirasi sepertinya tidak cocok dengan saya karena bukan saya yang menginspirasi tapi saya yang terinspirasi. Semangat dan terimakasih untuk semua pembelajaran, never stop learning ‘cause life never stop teach. Selalu lah jadi lentera dalam harapan orang-orang kecil.

 

 

Nur Islamiyah Angraeni

EkspeditorKUN-Beberapa hal di sekitar kita kadang terlupakan bahkan terabaikan, seperti halnya keadaan Pendidikan di pelosok yang nyaris tidak dipandang dan diperhatikan. jarak yang jauh dan medan yang sulit di akses menjadi tantangan bagi siapa saja yang hendak memberikan uluran tangan bagi warga khususnya anak-anak disana, akan tetapi bukankah tantangan hadir untuk menguji sejauh mana kita dapat menjadi manusia yang utuh dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Pada tanggal 11 November 2022 Tim penyaluran donasi dari Komunitas Koin Untuk Negeri kembali melakukan tugas penyaluran di sebuah tempat terpencil tepatnya di SD 205 Inpres Mocongjai Kec.Cenrana, Kab. Maros, Tim yang berjumlah 4 orang yaitu Monn selaku kordinator penyaluran, Uccil, Arham dan juga Rahim sebagai anggota.

 Merupakan kali kedua Komunitas KUN melakukan penyaluran di kecamatan yang sama, tidak jauh dari tempat sebelumnya namun hanya berbeda lokasi tujuan. Dengan berbekal komunikasi dan kordinasi dengan beberapa pihak yang bersangkutan guna menyiapkan segala hal, Tim akhirnya memutuskan untuk berangkat pada Jumat malam menuju rumah yang akan digunakan sebagai persinggahan dan rencananya Tim akan melakukan perjalanan pada esok harinya. Pada sabtu pagi pukul 06.30 WITA Tim telah menyiapkan keperluan untuk kepentingan disana, sehabis sarapan dan berpamitan dengan pemilik rumah Tim segera menemui salah seorang guru disana yang telah menyetujui untuk mendampingi kami menuju lokasi, yah..beliau biasa disapa Pak Awal salah seorang guru yang cukup lama mengabdi disana, beliau mengajak salah seorang kawan guru lainnya yakni Pak Gafur untuk menemani kami di perjalanan kali ini.

Awalnya kami mengira akan menempuh jarak 7 Km itu dengan berjalan kaki namun setelah disarankan kami akhirnya mengiyakan untuk mengendarai motor dengan bermodalkan meminjam motor salah seorang guru disana, akhirnya motor genap untuk kami kendarai, pada pukul 07.40 WITA Tim berjumlah 6 orang menuju lokasi. hal yang kami tidak pernah duga adalah medan yang kami kira akan ditempuh 1 jam saja dengan jalan kaki ternyata salah besar, dengan jarak tempuh 7 Km kontur medan yang bervariasi membuat kami kewalahan ditengah perjalanan, ditambah kondisi saat itu sehabis diguyur hujan menambah sulitnya akses jalan, membuat jarak tempuh jika berjalan kaki bisa sampai 3 jam.

Kami tiba dilokasi pukul 08.32 WITA sesampainya dilokasi kami lansung berbaur dengan warga dan anak-anak sekaligus mengecek bangunan sekolah yang telah berdiri sejak 2015 silam, beberapa anak-anak disana seketika menghampiri kami untuk berkenalan lalu kami arahkan untuk masuk ke kelas untuk segera melakukan pembagian bantuan donasi. Jumlah siswa keseluruhan yaitu 14 orang, namun yang kami dapat temui hanya 5 orang saja, maklum saja kata Pak awal biasanya jika hari sabtu kebanyakan siswa turun desa membantu orang tuanya berjualan sehingga pada hari itu kami hanya dipertemukan oleh beberapa siswa saja. Satu hal yang membuat kami tercengang adalah ternyata kebanyakan siswa jarak tempuh dari rumah ke sekolah sekitar 6 Km, hampir sama arak tempuh kami dari jalan utama ke lokasi tujuan. Lebih parahnya lagi medan yang dilalui anak-anak Ketika menuju sekolah adalah hutan belantara yang hanya di pisahkan oleh jalan setapak dengan kontur yang bisa dibilang berbahaya bila sewaktu-waktu hujan deras tiba, selain itu bisa saja mereka dipertemukan oleh binatang liar yang bisa saja lalu lalang seperti ular dan lainnya.

Mendengar hal itu kami pun memutuskan untuk mengecek lansung apa yang kami dengar itu dan ternyata memang benar, kebanyakan siswa yang bersekolah di SD itu berada di desa sebelah tepat dibawah kaki Gn. Bulusaraung yang masih Kawasan taman nasional. Kami begitu tertampar mendengar dan melihat keadaan disana yang serba terbatas, bayangkan saja jika malam tiba warga disini hanya menggunakan lentera sebagai alat penerang dikarenakan belum adanya listrik. Betapa kurang bersyukurnya kami yang serba berkecukupan, dibanding mereka yang ada disini, sehabis melaksanakan tugas kami pun segera pulang dikarenakan kami khwatir bila hujan tiba akses jalan yang begitu sulit ditambah trek yang menurun membuat tenaga yang dikeluarkan harus ekstra.

Kami tiba di rumah Pak Awal pada pukul 13.30 WITA begitu banyak drama terjadi Ketika kami dijalan pulang, harus berjalan kaki sejauh 3 Km ditambah motor yang dikendarai Pak Awal mogok sehingga mengharuskan kami bergantian mendorong untuk sampai dibawah. sehabis makan siang dan istirahat sejenak dirumah Pak Awal kami berpamitan pulang menuju Makassar. Perjalanan yang singkat dengan segudang kisah, pembelajaran dan pengalaman hidup yang kami bisa dapatkan, satu hal yang kami petik dalam perjalanan ini ialah tiada Batasan bagi siapapun yang punya kemauan untuk belajar, tiada perjuangan tanpa pengorbanan untuk bisa tetap berdiri diatas. begitulah sepenggal kisah perjalanan kali ini menemukan Mutiara di belantara dengan semangat juang belajar yang begitu tinggi.

Melaporkan dari PELOSOK NEGERI, DARI SUDUT NEGERI KITA MENGINSPIRASI


Setapak demi setapak ia lalui hingga sampai ditempat yang hangat dikelilingi anak-anak dengan senyuman yang haus akan ilmu

Sebuah langkah awal yang sedang dijalani manusia-manusia yang ingin berusaha memanusiakan manusia.

Disini di pelosok, antusias anak-anak yang luar biasa namun kurangnya uluran tangan untuk menggapai cita-citanya dimasa depan

Mereka yang begitu semangat menyambut kami seolah berbisik ingin dituntun kearah yang yang jelas dengan mengantungkan harapan-harapan mereka yang sempat dipatahkan oleh keadaan

Kami hadir berusaha mengabulkan doa dan harapan yang mereka panjatkan

Berusaha menanamkan semangat dan keyakinan tentang arti ilmu dan pendidikan untuk masa depannya kelak

Semoga benih cinta tumbuh tinggi dan besar bersama cita-cita mereka kelak

Dan semoga alam dan seisinya turut andil mendoakan keberhasilannya

Semoga.



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, perkenalkan Nama saya Nur Aulia Ramadani, kelahiran Pa’langiseng, 16 November 2003. Saya anak pertama dari tiga bersaudara, Asal insitasi Universitas Negeri Makassar, angkatan 2021di kampus. Di sini saya akan berbagi bercerita tentang masuknya saya dalam satu organisasi di luar kampus, Nah bermula saya sangat ingin memasuki satu organisasi belajar mengajar KUN (Koin Untuk Negeri) dan kebetulan saya mempunyai teman yang bergabung dalam organisasi KUN. Saya begitu tertarik ketika melihat teman saya mengajar adik – adik di pelosok, menurut saya itu merupakan sesuatu yang luar biasa sehingga saya benar – benar mendaftarkan diri.

Setelah saya mendaftarkan diri, saya mengikuti tahap seleksi mulai dari seleksi berkas dan tahap wawancara tapi saat pengumuman saya tidak dinyatakan lolos saat itu saya sangat kecewa akan tetapi saya sadar mungkin belum saatnya. Pada saat meet up 2 seorang panitia KUN mengabari bahwasanya saya di terima atau lolos masuk ke dalam KUN saat itu saya amat bahagia suatu keberuntungan bisa masuk ke tahap selanjutnya dan mengikuti meet up 3 atau pemantapan yang kemudian bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar di pelosok yang berada di Dusun Makmur, Desa Pattiro, Kec. Tompobulu, Kab. Maros, Sulawesi Selatan dalam program Sekolah Jejak Nusantara.

Disinilah awal mula sari kisah saya selama mengikuti kegiatan Sekolah Jejak Nusantara

Tepat pada hari Kamis 03 November 2022 hari dimana semua calon relawan dan relawan lain berangkat menuju Dusun Makmur, Desa Pattiro, Kec. Tompobulu, Kab. Maros. Kami menempuh perjalanan sekitar 1 jam lebih dari kota Makassar, dan tidak semudah itu untuk sampai ke Dusun Makmur.

Saat tiba di Dusun Makmur, kita harus menyebrangi sungai dengan berjalan kaki yang cukup luas kemudian melanjutkan perjalanan melewati jalan cukup menanjak. Ini merupakan momen pertama kalinya saya menanjak akan tetapi sangat indah bagi saya. Rasa senangpun mengiringi perjalanan saya, capek tapi seru hingga tiba di lokasi yaitu Dusun Makmur.

Sekitaran jam 3 sore para relawan sudah sampai di Dusun Makmur dengan selamat, senyum ceria adik adik menyambut kami dengan sapaan hangat dari warga menjadi obat lelah setelah menempuh perjalanan yang jauh.

Singkat cerita,,,

4 hari pun telah terlewati, banyak pelajaran yang saya ambil pada saat itu, dimana malam terakhir kami di dusun Makmur, malam di mana kami saling berbagi cerita, mengenal lebih dekat dan sekaligus menyampaikan kesan dan pesan selama mengikuti kegiatan, singkat cerita malam itu juga kami calon relawan angkatan 30 dikukuhkan atau disahkan menjadi angkatan 30 atau bagian dari keluarga Komunitas Koin Untuk Negeri.

Di malam itu saya merasa sangat bahagia karena saya tidak menyangka bisa sampai ke titik itu dimana saat itu juga pertama kalinya saya ikut sebagai relawan. Saat pulang saya sangat banyak membawa pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga. Kesan dan pesan saya kepada KUN terima kasih telah mengajari saya untuk lebih dewasa dan tetap jaya KUN
Thank you for everything, I love you
Diberdayakan oleh Blogger.