Ayo Berdonasi untuk Pendidikan

Semua manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk mengubah hidup orang lain. Memberi adalah salah satu kemampuan itu. Mari bersama-sama wujudkan mimpi adik-adik di sudut negeri untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

KLIK DISINI


 Hai kakak-kakak ...


Sudah siap menginspirasi adik-adik di pelosok?

Sudah siap berbagi pengalaman dengan adik-adik di Pelosok?

Semoga saja kita sudah siap dan masih semangat memperhatikan pendidikan di pelosok...

Setelah membuka pendaftaran calon relawan Sekolah Jejak Nusantara (SEJARA) sejak tanggal 26 hingga 31 Oktober 2020, dan telah mengikuti beberapa seleksi. Akhirnya, terpilih beberapa relawan yang berhak mengikuti kegiatan selamjutnya. Pada kegiatan selanjutnya, relawan wajib mengikuti Meet Up 1 yang akan dilaksanakan pada tanggal 4 November 2020, pada Meet up 1 akan diperkenalkan mengenai Komunitas KUN dan juga program SEJARA 👌. 


Mari bersama-sama mengukir senyum di wajah lugu adik-adik di pelosok...

Klik dibawah 👇

DAFTARELAWAN



.

Hallo kakak-kakak.. :)
PERDANA !!!

Komunitas Koin Untuk Negeri Cabang Palopo untuk pertama kalinya membuka pendaftaran calon relawan sekolah jejak nusantara. Dalam hal ini, pemberangkatan pertama sekolah jejak nusantara berlokasi di SDN 667 URU' , Desa Illan Batu URU', Kec. Walenrang Barat, Kab. Luwu. 

Pendaftaran mulai dibuka pada tanggal 26-31 Oktober 2020 dan akan melakukan pengabdian selama 4 hari 12-15 November 2020. Mari Daftarkan diri anda segera !!

👇👇

Jangan Lupa Twibbon dan captionnya yaa kakak 👌





Halo kakak-kakak pemerhati pendidikan!!!

Apa kabar? Semoga sehat selalu dan tetap semangat beraktivitas.

Akhirnya yang ditungu-tunggu!!!
Komunitas Koin Untuk Negeri kembali membuka pendaftaran calon relawan Sekolah Jejak Nusantara angkatan XXII. Pada kali ini Sekolah Jejak Nusantara berlokasi di MIS Al Khairat yang berada di Dusun Bolalangiri, Desa Bonto Katute, Kec. Sinjai Borong, Kab. Sinjai.


Pendafataran akan dibuka mulai tanggal 21-24 September 2020 dan akan melakukan pengabdian di lokasi selama 4 hari pada tanggal 1-4 Oktober 2020. Mau  merasakan keseruan berbagi pengalaman dan mengukir senyum adik - adik di pelosok? Mari daftarkan diri!!!

    Rabu, 24 april 2019, saya tiba di makassar bersama teman-teman calon relawan dari Palopo yang berjumlah delapan orang, tepatnya perwakilan Bus lita dalam rangka menjadi relawan dalam suatu kegiatan Komunitas Koin Untuk Negeri. Dalam kegiatan tersebut kita langsung terjun kelokasi sekolah yang berada diwilayah yang yang masih jarang di akses kendaraan.

    Sekolah- sekolah yang mestinya mendapat perhatian khusus dari pemerintah kota sebab kondisi sekolah yang boleh di kata jauh dari kata layak untuk disebut sebagai ruang kelas, sebab sarana dan prasarana yang tidak memadai.

    Menurut saya pribadi kegiatan yang seperti inilah yang mestinya di programkan oleh mahasiswa yang kita ketahui bersama sebagai agen perubahan, social control dan moral force. Sebab kemudian miris melihat kondisi adik-adik yang sekolah di wilayah pelosok dengan sarana dan prasarana yang kurang memadai serta tenaga pengajar yang kurang.

    Semestinya hal- hal seperti inilah yang kemudian perlu di giatkan demi terwujudnya pendidikan yang merata, tanpa adanya peran pemuda dalam memperhatikan hal-hal yang seperti ini pendidikan tak akan bisa menyebar ataupun dapat di rasakan oleh adik-adik yang ada diwilayah pelosok kota.

    Kegiatan sekolah jejak nusantara komunitas koin untuk negeri inilah yang kemudian membagkit semangat saya pribadi sebagai calon pendidik untuk benar-benar belajar dengan giat sebab semngat dari pada adik-adik yang berada dipelosok dengan keterbatasan ruang, sarana dan prasana namun dengan penuh semangat kemudian berangkat ke sekolah yang berjarak jauh dari tempat tinggalnya namun tak pernah letih untuk kemudian merasakan yang bangku sekolah.

    Harapan saya kemudian semoga kakak-kakak dari komunitas kun dapat menjangkau semua sekolah-sekolah terpencil yang berada diwilayah Sulawesi khususnya dan semoga kedepannya kegiatan yang seperti ini tak terbatas diwilyah Sulawesi saja melainkan mencakup seluruh wilayah NKRI. Saya pribadi berharap kedepannya kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh kakak-kakak dari komunitas KUN dapat selalu menginspirasi.

    Relawan Sekolah Jejak Nusantara 
    Institut Agama Islma Negeri ( IAIN ) Palopo

    Mendidik adalah tugas konstisional negara, tetapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral bagi tiap orang yang terdidik begitulah yang sering di ungkapkan Anies Baswedan waktu masih menjabat sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan di Indonesia.

    Sebagai Mahasiswa di salah satu kampus swasta di makassar memaknai pendidikan sebagai proses mencetak generasi-generasi intelektual untuk memberikan solusi bagi setiap permasalahan negeri ini tentunya tak cukup hanya mengandalkan tingginya nilai IPK anda ataupun seberapa rajin anda masuk dan mengerjakan tugas-tugas kuliah yang di berikan oleh para dosen tentunya di perlukan kepekaan mendalam terhadap fenomena-fenomena yang terjadi negeri ini terkhususnya dalam aspek pendidikan yang ada, jika di tanya seberapa mampu sih anda untuk bisa menrefleksi dunia pendidikan saat ini? Mungkin saya pun masih kekurangan banyak data untuk menjawab pertanyaan ini.

    Pada kesempatan yang lalu saya mengikuti salah satu program sekolah jejak nusantara yang diadakan oleh komunitas koin untuk negeri salah satu komunitas di makassar yang bergerak dalam dunia pendidikan dan sosial. Mengenal lebih dalam pendidikan yang ada di pelosok negeri tentunya akan menambah wawasan kita terkait fenomena-fenomena pendidikan yang ada di negeri ini tepatnya di Kabupaten Maros Kecamatan Tompobulu Desa Bonto Somba Dusun Bara.

    Jarak yang di tempuh dengan berkendara selama kurang lebih dua jam dengan medan yang agak ekstrim mengharuskan perjalanan harus di lanjutkan dengan berjalan kaki selama kurang lebih 3-4 jam lamanya mendaki dan menurun melewati jembatan gantung hamparan sawah dari ketinggian serta air yang mengalir dari gunung yang langsung bisa di minum menambah semangat teman-teman relawan untuk sampai pada lokasi tujuan meski harus membawa tas besar untuk kebutuhan hidup dan materi ajar yang akan di pake untuk beberapa hari pengabdian hal itu tak membuat teman-teman mengeluh dan itu sudah menjadi kebiasaan bagi para relawan KUN (Koin Untuk Negeri) untuk tetap menginspirasi di berbagai pelosok negeri.

    Tentunya tak seperti di kota disaat anak-anak di tunjang fasilitas lengkap dalam belajar di dusun bara siswa masih duduk melantai dalam menerima pelajaran yang ada tak heran jika kebanyakan siswa lebih suka memakai sendal kesekolah daripada memakai sepatu bahkan putih merah di pake setiap hari, ada pula yang memakai baju pramuka dengan celana levis ke sekolah dan kalau ditanya pasti jawabannya akan bermacam-macam ada yang mengatakan seragam sekolahnya memang hanya ada merah putih saja, ada yang bilang seragamnya udah kekecilan ada yang bilang sudah robek dan tak pernah di jahit-jahit lagi dan jika kita lihat seragam mereka memang kebanyakan sudah kusut dan lama tak pernah di ganti yang baru lagi mungkin begitulah sedikit potret pendidikan yang ada saat ini.

    Saya pun sempat berpikir andai saja sistem aturan pendidikan sekolah yang ada di kota sama halnya diterapkan di sekolah-sekolah pelosok mungkin saja siswa-siswa di dusun bara banyak yang tak lagi mau kesekolah hanya terkendala seragam sekolah yang harus di seragamkan.

    Pada suatu kesempatan pada kelas agama saya mengajari salah satu siswa bernama Mita siswa kelas dua di dusun bara gadis kecil berwajah mirip ala india yang memakai seragam putih merah dengan jilbab hijau dikepalanya setiap hari Mita selalu membawa adiknya ke sekolah yang bernama Salasa bocah kecil yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak yang selalu memakai seragam olahraga dan memakai topi SMP sebagai penutup kepalanya dan jika ditinggal atau dipisahkan dengan kakaknya Salasa akan menangis sekencang-kencangnya. Materi ajar saat itu mengenal huruf hijaiyyah dan tes mengaji iqro’ dan ternyata Mita benar-benar belum bisa mengaji bahkan belum terlalu mengenal hijaiiyah dan jika kutanya huruf apa ini dia hanya menggeleng malu-malu tidak tahu.

    Ada satu kejadian yang tak bisa kulupa dari mita saat mengajarinya mengenal huruf hijaiiyah dengan media yang ku pegang saat itu berupa huruf-huruf hijaiiyah saya mencoba menyebutkan satu persatu huruf tersebut dan kemudian di ikuti oleh Mita saya menyebutkan 6 huruf awal di huruf hijaiiyaah Alif, ba, ta tsa, ja ha. “Mita coba ulangi Mita pun mengulanginya alif, ba, ta, ja, ehh.. bukan ja tapi tsa sudah pi tsa baru ja begitu kataku kepada mita” dan saya pun mencoba menunjuk huruf kemudian mita mencoba menyebutkan huruf tersebut saya menunjukkan huruf alif dan seterusnya secara berurut.

    “ Apa ini Mita”

    “alif”

    Kalau yang ini

    “Ba”

    Yang ini

    “Ta”

    Apa ini “Ja”

    Dan dia pun kembali menyebutkan huruf ja ( خَ ) meskipun yang kutunjuk adalah huruf tsa ( ث ). Dan saya mencobanya lagi berharap dia sudah mengenali huruf tsa

    “ Apa ini Mita”

    “alif”

    Kalau yang ini

    “Ba”

    Yang ini

    “Ta”

    Apa ini

    “Ja”

    Dan dia kembali lagi menyebutkan huruf ja meskipun yang kutunjuk adalah huruf tsa dan saya pun kembali memberikan pengertian lagi kalau huruf ini adalah huruf tsa ( ث ) bukan huruf ja ( خَ ) dan saya pun mengulanginya lagi berharap kali ini berhasil dan mampu membedakan yang mana huruf ja yang mana tsa

    “ Apa ini Mita”

    “alif”

    Kalau yang ini

    “Ba”

    Yang ini

    “Ta”

    Apa ini

    “Ja”

    “ eh bukan, itu tsa” sontak mita berdiri dengan keningnya yang agak mengkerut tajam, matanya merah berkaca-kaca melototi saya sambil menarik adiknya salasa, dia berdiri di ujung pintu dan tampaknya dari bahasa tubuhnya dia tak mau lagi belajar dengan saya, saya mencoba membujuk beberapa kali tetap dia tak mau mendekati saya meskipun saya berusaha meminta maaf bahkan saya terus membujuknya hingga jam belajar usai dan akhirnya jam pulang tetap saja Mita belum benar-benar memaafkan saya.

    Esoknya kami dan relawan yang lain pun bersiap-siap untuk balik ke makassar, pada saat itu hari minggu dan saya tak bisa menjumpai Mita di sekolah di karenakan memang hari libur dan saya pun belum sempat menanyakan di mana rumahnya.

    Kejadian kemarin akan selalu menjadi catatan penting bagi saya meskipun di bangku kuliah saya menggeluti bidang ilmu pendidikan, saya belajar psikologi pendidikan, metode pembelajaran, microteaching dan hal-hal yang terkait dengan proses mendidik tapi pada saat mendapat materi ini di kampus saya agak menyepelekan mata kuliah tersebut mungkin di karenakan memang saya jarang masuk ataupun ketika masuk kurang memperhatikan apa yang di jelaskan para dosen.

    Akhirnya saya di buat sadar oleh Mita betapa penting mempelajari teori-teori mendidik sebelum mempraktekkannya, betapa pentingnya mengetahui karakter siswa terlebih dahulu sebelum masuk pada materi ajar, dan betapa pentingnya mengetahui kemampuan siswa terlebih dahulu sebelum memberikannya tugas dalam belajar. Anda boleh saja memaksa siswa masuk kelas dan menyuruhnya diam tapi tidak untuk memahami dan mengerti apa yang kalian ajarkan dan saya belajar banyak hal dari marahnya Mita saat itu kepada saya dan semoga saya bisa ketemu lagi dengan Mita dan berdamai lagi dengan saya dan saya harap ia sudah mampu membedakan yang mana huruf tsa yang mana huruf ja dan sudah bisa mengaji dengan lancar.

    Relawan Sekolah Jejak Nusantara

    Pada hari kamis, 25 – 2019 saya melakukan sebuah perjalanan menuju Maros lebih tepatnya desa bara, bersama dengan kakak kakak relawan KUN lainnya. Kami melakukan perjalanan menggunakan motor kurang lebih 2 jam sampai dengan di penitipan motor.

    Setelah kami menitipkan motor dan beristirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan menggunakan kaki, di perjalanan kami melewati berbagai macam rintangan, jalan yang penuh dengan batuan besar, jalan yang licin karena lumut, jebatan goyang, bahkan jurang.

    Didalam perjalanan menuju desa bara saya hampir menyerah saya tidak sanggup/ mampu lagi untuk mendaki, tetapi ada kakak relawan yang membantu serta menyemangati saya agar terus berjalan. Dan saat itu saya berfikir bagaimana bisa hanya dengan ini saya menyerah, bagaimana dengan adik adik yang setiap harinya melewati jalanan ini hanya untuk menuju kesekolah. Setelah kurang lebih 5 jam perjalanan akhirnya kami sampai di desa tersebut.

    Keesokan harinya kami melanjutkan kegiatan kami dengan mengajar adik adik yang berada dipelosok. Kami menuju sekolah yang cukup jauh dari permukiman serta jalanan yang kurang mendukung. Di desa tersebut hanya terdapat 1 sekolah itupun hanya terdapat satu bangunan yang dalamnya sudah terbagi dalam beberapa tingkatan, mulai dari TK, SD, sampai SMP. Peralatan disekolah itu juga masih sangat kurang, mereka hanya beralaskan karpet.

    Dan, Adik adik yang berada dipelosok masih sangat minim akan benda benda yang menurut kita sudah lumrah seperti, pulpen yang mempuyai lima warna. Ada satu adik dari pelosok yang mempertanyakan apa itu? Benda apa itu? Mengapa warnanya sangat banyak?. Kalau kita berfikir lagi seberapa terbatasnya adik adik yang berada dipelosok itu hingga pulpen itu mereka tidak mengetahuinya. Adik adik yang berada dipelosok dengan keterbatasan yang sangat banyak, mereka sangat rajin serta sangat bersemangat untuk sekolah. Mereka menumpuh jarak yang jauh untuk sampai kesekolah.

    Bukan cuman sekolahnya saja tapi desa nya juga mempunyai keterbatasan seperti masyarakat disana tidak menggunakan listrik melainkan ia hanya mengandalkan obor sebagai pencahayaan. Pertama kali saya sampai saya hanya berfikir bisaka masyarakat disini hidup tanpa menggunakan listrik? Tapi nyatanya mereka sudah terbiasa dengan keadaan tersebut.

    Didalam komunitas Koin Untuk Negeri ( KUN ) ini saya sangat mendapat banyak pelajaran yang saya tidak dapat di bangku kuliah yang menurut saya di bangku kuliah yang mungkin juga kalian sudah tau yaitu belajar belajar dan belajar, di komunitas ini kita diajarkan bagaimana agar ilmu kita tidak menjadi sia sia, bagaimana kita bisa membantu adik adik dengan ilmu yang kita dapat. dan menurut saya ini adalah hal baru untuk saya, hal baru bagi saya bisa mengajar adik adik yang berada dipelosok dengan berbagai macam karakter.

    Relawan Sekolah Jejak Nusantara

    Kamis, 25 April 2019. Dimana saya memulai perjalanan yang luar biasa menuju Dusun Bara desa Bontosamba, kec. Tompobulu kab. Maros tempat yang benar-benar terpencil. Karena komunitas "koin untuk negeri" saya dapat kesempatan untuk melakukan perjalanan yang ekstrim ini. Saya bisa mendapat pengalaman baru, bisa bertemu tempat baru, serta berkenalan dengan orang orang baru dan itu ternyata sangat menyenangkan.

    Awalnya kami saling tersipu malu ketika bertegur sapa, tetapi pada akhirnya kami dapat membangun persaudaraan yang erat dengan waktu yang singkat. Untuk komunitas "koin untuk negeri" Terima kasih telah memberikan saya kesempatan untuk ikut andil dalam mengukir senyum di wajah adik-adik di pelosok sana, Terima kasih telah memberikan saya kesempatan untuk berbagi ilmu kepada mereka yang tidak sempat merasakan dunia pendidikan yang layak, dan terima kasih pula karena komunitas ini saya bisa merasakan hidup beberapa hari tanpa listrik dan jaringan.

    Semua itu menurut saya sangat menyenangkan karena di jalani bersama-sama. Ada satu waktu yang membuat hati saya teriris dimana ada hal-hal yang mungkin menurut kita itu tidak perlu di pertanyakan tetapi mereka mempertanyakannya. Saya begitu banyak belajar disana dalam perjalanan saya banyak mengeluh tetapi saya selalu menyemangati diri saya bahwa saya harus semangat saya harus kuat demi sebuah senyuman mereka disana, demi menghilangkan rasa penasaran yang dari tadi terus bertanya sebenarnya ada apa di depan sana.

    Lelah memang sangat terasa tetapi semuanya terobati dengan melihat semangat adik adik dalam belajar, melihat senyuman mereka yang seakan akan tanpa beban sedikit pun. 4 hari 3 malam hidup tanpa listrik, tanpa cahaya dan riuh kendaraan. Sangat berbeda  dengan kehidupan biasanya, ketika kembali ke kota Makassar.

    Saya merasa asing dengan semuanya, seolah olah saya baru pertama melihat banyak cahaya dan keramaian saya tidak tau kenapa saya merasa begitu takjub melihat semuanya. Komunitas "koin untuk negeri" Terima kasih atas semua pengalaman dan pelajaran yang berharga ini.

    Terima kasih telah membuat saya lebih bisa mencintai dan menghargai alam, Dan terima kasih telah memperkenalkan saya dengan adik adik yang sangat luar biasa. Saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari komunitas ini. Semoga komunitas koin untuk negeri bisa lebih menginspirasi ke depanny.

    Relawan Sekolah Jejak Nusantara
    Instansi : UIN Alauddin Makassar 
    Prodi : Pengembangan masyarakat Islam
    Diberdayakan oleh Blogger.