Ayo Berdonasi untuk Pendidikan

Semua manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk mengubah hidup orang lain. Memberi adalah salah satu kemampuan itu. Mari bersama-sama wujudkan mimpi adik-adik di sudut negeri untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

KLIK DISINI




 

BANGKU SEKOLAH DI UJUNG PELOSOK “PORINGAN”

 

Assalamualaikum Wr Wb…

Perkenalkan nama saya Muh. Al Qadri Syawal, Berasal dari kota Palopo Sulawesi Selatan, beralamatkan Jl. Dr. Ratulangi, No. 04, hobi saya yaitu memancing ikan dan makanan khas  dari daerah saya sering di sapa “kapurung”…

 

Mulailah cerita petualangan kecil saya di pelosok bumi sawerigading. Tepatnya di kabupaten luwu, kecamatan suli barat, desa poringan. Dimana di tempat ini kaki dan tangan saya di uji untuk bertindak lebih sebagai tenaga pengajar yang di kenal sebagai “pahlawan tanpa jasa” sedikit bergurau hehehee…

Jauh dari dataran biru (laut), desa poringan ini sendiri mempunyai sedikit keunikan di dalamnya ialah mempunyai masyarakat yang bersuku luwu dan bugis meskipun desa poringan ini sendiri terletak di kabupaten luwu. Awalnya saya agak bingung pada saat saya dan teman – teman KUN menginjakkan kaki di desa tersebut, di karenakan bahasa daerah yang di pakai masyarakat di atas terkadang tercampur aduk antara bahasa daerah luwu dan bugis, ini sedikit lucu bagi saya, bahasa luwu dan bugis di kemas dalam satu mulut dan itu menjadi pelajaran penting bagiku.. yang saya garis bawahi disini yaitu “BAHASA”, ini bukan persoalan transmigrasi, bukan letak posisi daerah, Melainkan bagaimana kita bertoleran dan bersilaturasa dengan adat istiadat seseorang yang kita jumpai…

Tidak jauh dari kata pendidikan. Melatar belakangi sekolah di desa poringan itu sendiri dulunya di kenal sebagai sekolah “kelas jauh” yang sudah beralih status menjadi sekolah negeri. Meskipun sudah beralih menjadi sekolah negri, namun ruangan kelas di sekolah poringan tersebut masih dua ruangan yang berisikan enam kelas siswa di atas. Kata salah satu masyarakat di atas dulunya sekolah tersebut adalah bangunan pribadi yang didirikan dalam bentuk papan dan kayu dan beralaskan tanah.

Terlepas dari itu dimana goresan tinta dan keringat bersatu padu untuk membangkitkan semangat para adik adik yang ada di pelosok, tawa dan petikan gitar mulai menghantui kabut “poringan” di malam itu. Mungkin ini terbilang singkat mengibahkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk bermain dan belajar bersama adik – adik di pelosok, akan tetapi gema tawa dan kucuran air keringat yang sedikit (Bakti) itulah yang akan mereka selalu kenang di halaman sekolahnya.

Mengingat kembali suasana yang begitu riuh dihalaman sekolah, seolah pikiran dan batin itu selalu bermain dihalaman sekolah tersebut meskipun raga kami sudah tak berada disana. Meski saya bukanlah sesorang yang bisa berbicara dan bercerita sesama tumbuhan maupun hewan, akan tetapi pepohonan dan bisikan anjing – anjing itu seolah merasuki gendang telingaku dan berkata “kamu adalah orang asing disini, tapi kami senang melihatmu bersama kawanan – kawanan mu itu”, dibalik pesan perasan itu (insyallah) kami akan kembali ke tanah Poringan ini.

Cepat atau lambat hak dari semua hak akan memiliki peran dan pelaku.. di komunitas ini akan selalu ada ruang dimana orang – orang akan berkumpul dan memiliki hak dan tanggung jawab yang bertujuan untuk meraih kesejajaran pendidikan terutama di daerah pelosok negri.

Moment dimana adik – adik dan kakak – kakak saling membagi kasih dan tawa dsitu saya merasa bahwa  keresahan  dalam kelas yang begitu formal bisa diatasi dengan sesuatu yang sangat sederhana menurutku yaitu; Belajar sambil bermain…

Dan di komunitas ini mempunyai beberapa kelas yang menjadi sumber bahan ajar yaitu; kelas literasi, kelas agama, kelas inspirasi, kelas kreatifitas, dan kelas alam. Dari berbagai kelas tadi masing – masing memiliki fungsi dan rancangan pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai target yang sudah ditetapkan, seperti di kelas literasi yang bertujuan untuk menyajikan bagaimana peserta didik bisa belajar membaca dan menghitung, di kelas agama berusaha untuk bagaimana peserta didik bisa belajar mengeja dan membaca huruf hijaiyah, di kelas inspirasi ini menyajikan seperti apa itu cita – cita dan merangsang peserta didik untuk bagaimana cara meraih cita – cita meraka nantinya, di kelas kreatifitas melatih peserta didik untuk membuat suata karya yang terbuat dari bahan – bahan yang ditemukan di sekeliling lingkunganya, sedangkan di kelas alam sendiri mempelajari seperti apa manfaat dan kerugian merawat alam itu sendiri dan mempelajari pola hidup sehat seperti dari cara mencuci tangan dengan benar dan baik.     

Seiring kabut yang mulai hilang di lahap pagi dan di kenang oleh subuh, tak terasa saya dan teman – teman sudah mencapai hari akhir yaitu hari kepulangan kami ke rumah.. Sepatu yang basah kini mulai kering di tiup oleh angin siang hari, tumpukan piring kotor yang sudah mulai tersusun rapi, lantai yang awalnya di tutupi oleh debu kini di hiasi warna bersih, yang menandakan akan kepulangan kami dari Desa Poringan.. ini bukan perpisahan melainkan awal pertemuan kita ke pertemuan selanjutnya “Poringan”.

Kesan saya selama di lokasi pengabdian ialah, pertama tama saya mengucapkan banyak terima kasih kepada kakak – kakak yang telah membina saya dalam hal apapun itu selama di lokasi, entah itu melatih saya bagaimana tampil di depan adik – adik, cara menyampaikan materi di depan adik – adik harus bagaimana, dan lain – lain. Teruntuk kesan saya pribadi, rasa misterius terhadap belajar dan bermain di usia terbilang anak anak bukan menjadi misteri lagi bagi saya. Selain dari pada itu rasa senang, bahagia dan nostalgia menjadi penghias di siang dan malam tiga hari tersebut..

Adapun pesan saya untuk Komunitas Koin Untuk Negeri “Tetaplah Bercahaya Di Penjuru Pelosok Negeri”.

 

 

 

 

 

 

 


Semerbak Merah untuk Negeri

Oleh: Irma Rukka


Berjuang melawan kantuk demi kemanusiaan

menyatukan niat dengan penuh lihai

beradu akting dengan bayang-nyata di gubuk nan goyah

memohon restu pada surgaku


Melangkahkan pikiran

mengulurkan tekad

pada siapa yang membutuhkan

kantong kering tak sudi jadi  penghalang 

kencangnya angin di antara rimbun pepohonan tak akan menjadi buih semangat juang


Takkan jadi rintangan...

takkan jadi bumerang tuk menggapai surgawi di pelosok negeri sana...


Curam nan terjal

licin dan tak tersentuh aspal yang pekat

tak menyurutkan langkah merah membara ini menggapai surgawi di sudut negeri sana


Merah...

maju...

maju menghantarkan titipan risalah para pemikir yang budiman

menghantar amanah sang baginda


Habluminannas...

Niat dan tekad untuk kemanusiaan menjadi tombak jasmani dan rohani


Rela dicemooh...

berjuta buah bibir yang buta akan indahnya bahagia dalam semerbak merah


Merah itu aku dan juga kalian...

semerbak bakti catatan kebaikan yang tak mengharap imbalan


Semoga juang dan waktu

Jua keringat menjadi tabungan amalan


Terima kasih telah berjihad demi misi kemanusiaan

salam hangatku...

tetaplah menginspirasi


Bantaeng, 28 Juni 2022

Kakak Irma Rukka

Universitas Muhammadiyah Bulukumba


Bismillah 
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 
Perkenalkan nama saya ILDA NURFADHILAH biasa dipanggil ILDA, saya lahir di Thn 1999 setahun setelah terjadinya Krismon (Krisis Moneter) di Indonesia. Saya lulusan dari SMA NEG 1 PALLANGGA.

Awalnya sebelum daftar di KUN (Koin Untuk Negeri) Saya mencoba mencari informasi kepada akun KUN di Instagram, ingin memastikan apakah saya yg hanya lulusan SMA bisa daftar? Dan alhamdulillah kata mimin bisa.

Sebelumnya saya juga daftar di komunitas relawan lain namun tidak lulus berkas, entah berkas bagian mananya Saya tidak lulus, kemudian akhirnya saya mendapat nama akun KUN dan pada saat itu juga sedang melakukan Oprec angkatan 27 dan saya mencoba untuk daftar dan setelah menunggu bbrapa hari daftar alhamdulillah saya dinyatakan lulus😇. 

Setelah pengumuman saya join lah di salah satu Grup Whatsapp. Di dalam gb kita saling kenalan untuk mengenal satu sama lain, dan alhamdulillah admin dan anggota gb baik dan humble. Sehari setelah pengumuman KUN mengadakan meet up 1 di salah satu Cafe yg ada di pengayoman, di sana kita mulai kenal satu sama lain untuk pertama kalinya, jujur saya sangat menyukai bertemu dengan orang
baru,apalagi orang yg kita temui itu baik dan humble. 

Awalnya saya merasa minder dengan mereka (Orang yang baru saya temui) kenapa? Ya karena saya hanya lulusan SMA dan mereka ada yang lulusan S1, D3 dan masih ada yg sedang kuliah. Apalagi saat berkenalan mereka bertanya "nama, alamat, dan kuliah dimana?" Hehe. 

Ok, lanjut. Selang bebrapa jam menunggu kedatangan kakak2 relawan lama (angkatan sebelumnya) mereka semua sdh hadir, meet up 1 dimulai. Disaat pengenal materi tentang kelas2 di KUN (Agama, Literasi, Inspirasi dan Alam) entah kenapa saya sangat tertarik dengan kelas Agama, padahal Agama saya saja masih banyak minusnya wkwkw. Setelah pengenalan per-kelas tibalah sesi wawancara. Dan ya saya diwawancara oleh Kak Dedy salah satu wali kelas Agama. Kelas yang saya ingin ajar nantinya, itupun jika lolos tes wawancara.

Ke esokan harinya pengumuman yg lolos tes wawancara dan Alhamdulillah nama saya terlihat. Ok lanjut di hari berikutnya meet up 2 dilaksanakan. Di meet up 2 ini kita di suruh memilih kertas yg bertuliskan nama2 kelas yg sdh ditulis oleh kakak relawan lama, dan saat saya memilih salah satu kertas saya mendapat kelas Literasi, namun saya tukar dengan kakak Rasyi yg mendapat kelas Agama hehehe.

Kemudian kita dibagi menjadi 5 kelas. Disaat berkumpul dengan kelas Agama saya heran kenapa ada salah satu relawan baru yg tdk saya lihat di saat meet up 1? Setelah menanyakan banyak hal dikarenakan penasaran Ternyata dia kak Rio (Coklat) yang dimana dia adalah relawan lama ( angkatan 26) yg katanya gagal berangkat dikarenakan COVID-19. Di kelas Agama kita (Ilda, Afifah, Rio, Suci dan Kak Dedy) sedang merapatkan materi2 apa saja yg akan kita berikan kepada adik2 yg ada di pelosok nanti. 

Lanjut meet up 3, hari dimana kita memaparkan materi dan media yg akan diberikan ke adik2 nanti. Dan alhamdulillah kelas Agama menurut saya kelas yg materi dan medianya cukup lengkap hehehe.
2 hari kemudian tibalah hari pemberangkatan untuk ke pelosok yg awalnya kita disuruh datang jam 8 pagi namun banyak diantara kami yg ngaret, dalam hati saya "saya yang terlalu tepat waktu atau mereka yang terlambat?" Wkwkw.

Ok setelah prepare di rumah kak pais jam 11.20 WITA kita otw. Setelah melalui perjalanan yg cukup jauh tibalah waktu sholat zuhur dan kami singgah di salah satu masjid di Kab.Maros untuk melaksanakan sholat zuhur. Setelah sholat rombongan melanjutkan perjalanan dan setelah setengah jam perjalanan kita tiba di tempat parkir motor untuk makan siang bersama dengan makanan dan cemilan seadanya. 

Beberapa menit Setelah selesai makan kita melanjutkan perjalanan tapi tanpa kendaraan, ya dengan jalan kaki kurang lebih 20 menit tibalah kita dipinggiran sungai dan tak henti2nya kita mengucap syukur atas nikmat yg Allah SWT berikan kepada kita "manusia" 

Sesampainya dipinggiran sungai kita istirahat dlu, foto2 dan main air wkwkw karna untuk pertama kalinya dalam hidup saya dan teman2 relawan baru menemukan sungai seperti itu hehe. Dan tibalah saatnya untuk menyeberangi sungai. Tapi sebelum kita menyebrangi sungai terlebih dahulu tas, alat2 dan media untuk mengajar dlu yg akan dibawa ke seberang sungai. 

Baiklah, setelah sampai diseberang sungai kita istirahat sejenak kemudian menikmati ciptaan ALLAH SWT. Yang luar biasa indah.

Baiklah lanjut untuk perjalanan menuju lokasi terakhir, yaitu sekolah di desa pattiro. Untuk rute perjalanan untuk bisa sampai di sana cukup menantang karena cukup menanjak, bagaikan lagi nanjak ke gunung wkwkw. Dan itu adalah hal pertama kali yg saya lalui dengan beban(tas) yg cukup berat. 30 menit berlalu, dan akhirnya sampai di puncak dgn disambut oleh adik2 dan ibu2 yg sudah menanti kami di sana. Alhamdulillah. Karena pas sampai di lokasi hari mulai gelap sya dan kakak2 relawan mulai beres2 dan melaksanakan sholat maghrib berkamaah. Setelah sholat kita mulai brefing untuk kegiatan besok pagi yg mulai mengajar anak2 di desa pattiro dan pemilihan Time keeper dan saya Ilda di tunjuk sebagai time keeper dan ini adalah pengalaman pertama kali untuk saya menjadi time keeper, yg bertugas membangunkan/mengingatkan kakak2 relawan untuk sholat , mengingat kan waktu untuk masak, untuk senam pagi. 

Hari Pertama di desa pattiro
Jam 3.45 saya mulai membangunkan kakak relawan untuk masak bagi mereka yg mempunyai jadwal masak. Setelah itu saya membangunkan yg lain untuk sholat subuh.
Jam 5.50 saya mulai mengingatkan kembali untuk siap2 melakukan senam pagi. Meski sedikit ngaret, mau heran tapi kita warga Indonesia wkwkw.

Setelah masak2 waktunya sarapan dan setelah sarapan bersama waktunya relawan bagi laki2 untuk cuci piring. Jam 6.50 seharusnya kita sdh berangkat ke sekolah, namun ya namanya juga warga indonesia jadi telat. Dan Sesampainya di sekolah alhamdulillah anak2 di sana menyambut kami lagi dgn gembira, namun ada bebrapa dari mereka yg masih malu2 dan selama 3 hari disana kami semua sangat bersyukur karna warga sangat mendukung kegiatan kami demi membuat adik2 di sana rajin belajar.

Dan hari terakhir, hujan mulai turun saat pelajaran kelas Inspirasi dimulai. Dalam fikiran saya hujan turun karena memberkahi segala kegiatan positif yang kami lakukan di hari itu. 
Hujan semakin deras, kami semua kembali ke sekolah tersebut yg hanya terbuat dari kayu dengan model seperti tempat ronda. Di sana kami berkumpul dgn adik2, ibu2 dan para relawan. Tidak lama kemudian bbrapq relawan datang dengan 1 karung yg cukup besar yg berisikan Tas untuk dibagikan ke adik2. Setelah di bagikan adik2 sangat senang karena mendapat tas baru. 
Setelah kegiatan selesai para relawan mulai main hujan, bermain bola dengan adik2.
Menjelang maghrib kita semua kembali ke rumah pak dusun untuk bersih2. Setelah bersih2 lanjut sholat berjamaah dan makan bersama. 

Nah di malam terakhir kami memulai evaluasi, setelah melakukan evaluasi dilanjutkan dengan rapat kepanitiaan yg berlangsung sampai jam 2 malam dan kamintdk tidur dibuatnya wkwkw.
Hari terakhir bersama adik2 di rumah pak dusun. Kami mulai beres2, membersihkan rumah yg telah menampung kami selama 4 hari 3 malam. Setelah bersih2 kami pamit ke Bpk dan Ibu, rasanya baru kemarin kita ketemu dan hari ini berpisah🥲

Kami mulai berjalan, menuruni bukit dengan membawa barang yg lumayan berat (lagi), setelah sampai di pinggiran sungai kami mulai menyebrang lagi di bantu dengan kakak2 relawan lama. Sesampainya di seberang sungai kami semua memutuskan untuk main air alias mandi2 di sungai yg indah. Dan pengalaman pertama selama hidup mandi di sungai bersama orang baru yang sudah seperti keluarga sendiri.

Sekian refleksi dari saya, jujur semua hal yg saya lalu selama 4 hari 3 malam bersama kakak2 Relawan lama dan Relawan baru adalah hal paling berkesan. Dan terimakasih kepada semua kakak2 relawan yg sudah menerima saya di keluarga KUN sebagai adik bungsu Angkatan 27.💙💙
Wassalamualaikum .


Saya Rasyita Pertiwi, seorang mahasiswa dari jurusan pendidikan. Lebih detailnya Pendidikan Bahasa Inggris. Mengajar dipelosok sudah menjadi wish list saya sejak tahun pertama kuliah. Pernah berkesempatan merasakan pengalaman tersebut sebelumnya di 2019. Lalu di 2022 ini saya merindukan lagi rasanya bermain sambil belajar bersama adik adik di pelosok dan diperkenalkanlah saya oleh salah seorang teman tentang Komunitas Koin Untuk Negeri, lalu memutuskan untuk ikut bergabung dalam kegiatannya. 

Di hari Meet Up 1 rasanya masih biasa saja. Melihat video dokumentasi pemberangkatan sebelumnya cukup membuat semangat dan menarik perhatian saya. Disela-selanya saya membayangkan bagaimana jika saya yang mengalaminya langsung? Apakah bakalan se-menyenangkan seperti yg terlihat di video? Apakah bakalan berkesan untuk saya? 

Lalu pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab ketika berada di lokasi binaan. Tau jawabannya apa? Lebih. 

Lebih menyenangkan dari apa yg terlihat divideo. Lebih berkesan dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. 

Bersentuhan langsung dengan adik-adik di dusun Makmur, lengkapnya di Desa Pattiro, kec. Tompobulu, kab. Maros, yang hangat dan sangat terbuka. Yang langsung datang gandeng tangan saya deluan. Saya bukan tipe orang yang gampang terbuka dan kaku terhadap orang baru, tapi anak-anak ini berhasil curi hati saya, buat saya jadi lunak dan tampil apa adanya. Bukan saya yang bikin mereka nyaman, mereka yg bikin saya nyaman. Dan perasaan itu membuat saya jadi lebih banyak menerima daripada memberi. 

Ketika Meet up 2 dan 3 sebelum pemberangkatan, saya sangat gengsi untuk mengikuti lagu-lagu ice breaking yang disertai gerakan karena malu diliatin mahasiswa lain. Tempat berkumpul meet up ketika itu berlokasi di pelataran UNM, yang jelas saja banyak mahasiswa berlalu lalang. Namun sesampainya di lokasi, hilang semua gengsi saya. Saya ikut bergerak, menyanyi sekeras-kerasnya, berteriak tepuk semangat bersama adik-adik bahkan bersorak yel-yel kelompok sampai suara saya hampir habis. 

Adik-adik di dusun juga sangat murah tawa. Mereka sangat apa adanya, tertawa bahkan pada hal kecil yang kadang tidak lucu bagi saya.  Tapi tawa mereka menular, buat hal yang saya anggap tidak lucu, jadi bisa kami tertawakan bersama.

Soal belajar beberapa dari mereka sangat cepat paham dan ingat walaupun beberapa lainnya tidak. Sewajarnya siswa dengan kemampuan belajar yang beragam. Sayangnya, fasilitas belajar yang bereka miliki sangat tertinggal. Sekolah mereka berbentuk pondok dengan satu ruangan tanpa pintu dan jendela. Terhitung 15 orang siswa untuk kelas 1-6. Sempat saya berbincang dengan seorang murid mengenai guru yang mengajar mereka, dan dari situ saya mendapat info kalau ternyata guru yang mengajar mereka juga hanya guru relawan yang tinggal sementara di dusun tersebut selama 1-2 bulan. Walaupun demikian mereka tetaplah anak-anak hebat. Mereka cuma butuh difasilitasi lebih lagi untuk menjadi lebih bersinar. 

Ada banyak sekali hal yang meninggalkan kesan di hati saya, salah satunya ketika saya berkesempatan mengambil peran di Kelas Inspirasi sebagai Ibu Guru. Drama dengan genre comedi inspiratif yang menampilkan berbagai profesi seperti polisi, tentara, dokter, guru, dan pencuri. Drama tersebut berhasil jadi bahan hiburan utama di hari kedua mengajar. Saya berusaha sebisa mungkin membawakan peran yang tidak terlalu kaku, bisa mencipta tawa namun tetap menyampaikan pesan. Awalnya saya sempat takut adik-adik tidak mendapatkan makna inti dari drama ini karena lebih banyak dipenuhi adegan komedi, namun ternyata mereka bisa mengambil pesan drama ini. Hal yang membekas dihati saya ketika salah satu dari mereka bilang ingin jadi seperti saya, Ibu Guru. Rasanya sangat terharu mengetahui bahwa diri ini telah jadi inspirasi bagi orang lain.

Pemandangan dusun yang disuguhkan juga sangat luar biasa. Terbiasa berada di hiruk pikuk kota yang sesak dan terlalu buru-buru dengan pemandangan gedung-gedung, datang ke dusun Makmur seolah jadi tempat istirahat sejenak. Pemandangan sawah, gunung-gunungnya, sungainya, dan yang paling saya sukai, bintang. Langit malam dusun sangat luar biasa bagi anak kota yang jarang melihat bintang seperti saya. Katakan saya norak, tapi memang begitu adanya. Tidak pernah saya melihat bintang bertabur sebanyak itu sebelumnya, bintangnya juga lebih besar dan bersinar dihiasi awan-awan halus yang mempercantik langit. Lalu matahari terbenam, dan matahari terbit yang tidak kalah luar biasanya.

Satu lagi momen berkesan yang ingin saya ceritakan. Ketika main hujan. Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya main hujan. Saya bukan tipe orang yang suka hujan-hujanan karena sangat repot dan tidak nyaman jika harus berpakaian basah. Tapi hari itu, saya dengan semangat keluar dari kelas ke lapangan untuk bergabung bermain hujan bersama adik-adik dan kakak-kakak relawan lainnya. Kita memainkan sejumlah permainan seperti kejar-kejaran dan lomba lari di lumpur sambil gendong adik-adik dipunggung. Rumput lapangan yang licin karena tercampur lumpur, tai sapi, bahkan kubangan yang bikin tenggelam kaki menjadi bagian dari kesenangan kami. Saya ingat sekali saya berlari sekuat tenaga sambil tertawa keras karena senang seolah tidak ada beban. Sangat menyenangkan, sangat menyembuhkan.

Sebagai mahasiswa dari jurusan pendidikan, mengajar tentu menjadi pengalaman yg perlu kami kerjakan. Dan setelah merasakan keduanya, mengajar disekolah sebagai guru dengan mengajar sebagai relawan sangat-sangat jauh perbedaannya. Saya menyadari mengajar sebagai relawan lebih menyenangkan, menyembuhkan, dan lebih tulus.



 

Titik semu ( Nur Afifah)

 berjalan di antara kegelapan

Menelusuri jejak yang lara

Diantara semu yang tiada Tara

 

Menetap dipelosok negeri

Tak ada cahaya penerang

Tak ada teknologi canggih

menepih dari semua keriuhan.

 

Kulihat ibu Pertiwi!!!!

 

Lihatlah kami berjalan tertatih menelusur bukit

Terjatuh lalu bangkit untuk sampai di sekolah duduk diantara teman-teman sebaya

Namun sekolah ku tak sama dengan dikota

Berlaskan tanah

Bertembok kayu

Hanya 3 ruangan yg ada

Kukira kami mendapatkan pendidikan seperti di metropolitan

Ternyata tidak?

Apa kabar negeriku?

 

Mereka dirampas haknya

 

Katanya pendidikan adalah hak semua anak

Katanya pendidikan gratis.

Buku buku kami dimakan rayap

Bangunan kami reyot

Lalu, mana buktinya?

Bukankah kami adalah bukti dari semua kelalaian.

 

Kami anak bangsa

Kami ingin belajar angka

Kami juga ingin belajar kata

Tak ada warna warni

Pendidikan macam apa ini?

Kami tertinggal dari semua perkembangan

Kami tersungkur dari peradaban.

Wahai Indonesia ku

Wahai ibu Pertiwi

 

Apa gunanya?

Kebijakan hanya sebuah narasi

Runtutan tangisan tak terdengar

Miris melihat qalbu yg teriris

Sosial media hanya ajang pamer

Pemberitaan tv hanya artis

Bukan pendidikan yg tertinggal

 

Wahai Indonesia ku

Wahai ibu Pertiwi

 

Lihatlah kami menderita

Lihatlah wajah kami yg merenung meratapi nasib

Pendidikan menjadi kenyataan yg remang"

Gejala"yg muncul lalu lalang.

Kami mau marah kemana?

Atau kami menikmati masa bodoh dan santai

Apakah kami akan terus merana seperti ini?

Bukankah kami bagian dari bumi Pertiwi

Ternyata kami hanya jadi tontonan mereka yg berkuasa

Tapi kami tidak akan menyerah dari kemelaratan ini.

Tetap berjalan tanpa henti.

Kumohon lihatlah kami disini


Diberdayakan oleh Blogger.