Ayo Berdonasi untuk Pendidikan

Semua manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk mengubah hidup orang lain. Memberi adalah salah satu kemampuan itu. Mari bersama-sama wujudkan mimpi adik-adik di sudut negeri untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

KLIK DISINI



Halo kakak-kakak... 

Apa kabar??? 

Semoga sehat dan sukses selalu. Tau tidak Kak jika saat ini dibeberapa pelosok sana kualitas pendidikan kita masih sangat memprihatinkan. Bukan hanya soal fasilitas yang masih jauh dari kata layak namun lebih dari itu ketersediaan tenaga pengajar yang masih sangat minim. 

Salah satu sekolah yang pernah kami kunjungi dan kami jadikan sekolah binaan yakni SD Buntu Lumu merupakan kelas jauh dari SDN 107 Lagego yang terletak di Dusun Buntu Lumu Desa Batu Putih Kec. Burau Kab. Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan. Sebuah sekolah yang berjarak kurang lebih 10 Kilometer dari Jalan Trans Sulawesi yang tak bisa dijangkau dengan kendaraan namun hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki kurang lebih 2 jam. Berselimut papan dan balok kayu yang sudah mulai lapuk, tanpa sekat yang menampung 18 siswa dalam 5 tingkatan yang berbeda yang dihandle oleh 2 orang guru.

Jika Kakak penasaran dan merasa ibah dengan kondisi pendidikan adik-adik disana, Yuk luangkan waktu untuk bisa mengunjungi mereka selama 4 hari pada tanggal 11-14 Maret 2021. Buruan daftar  mumpung KUN CABANG PALOPO membuka peluang dan kesempatan buat Kakak-Kakak..

Ingat yah pendaftaran hanya dibuka dari tanggal 21 - 27 Februari 2021.

👉 DAFTAR 👈


Saya Nurul Resky biasa dipanggil Nurul atau Resky. Saya lahir di kKabupaten Bulukumba tepatnya pada tanggal 23 Oktober 1998. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di salah satu Universitas yang ada di kota Makassar. 

Pada tanggal 25 April 2019, saya menjadi relawan di salah satu program Komunitas Koin Untuk Negeri yaitu Sekolah Jejak Nusantara. Dimana komunitas ini memberangkatkan relawan sekali dalam sebulan ke lokasi pengabdian yang terletak di dusun Bara. 

Dusun Bara terletak di Desa Bontosomba Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros. Untuk sampai di dusun Bara dibutuhkan waktu perjalanan sekitar 4-5 jam dengan berjalan kaki. 

Sebenarnya kita juga bisa menggunakan sepeda motor untuk sampai ke dusun Bara, akan tetapi kita harus mempunyai keahlian yang lebih karena medan perjalanannya sangat sangat menantang bagi orang yang pertama kali ke sana. 

Dusun bara merupakan suatu perkampungan kecil yang sangat jauh dari perkotaan, di dusun ini kita tidak melihat pasar, listrik juga tidak ada bahkan jaringan untuk menelepon saja sangat susah. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, di dusun ini terdapat sekitar tujuh puluh KK dan penduduknya mayoritas beragama Islam. 

Akan tetapi realita yang terjadi pada saat waktu sholat,mesjid yang ada di dusun ini terlihat sangat sepi. Entahkah mereka yang sibuk bekerja ataukah memang tidak ada niat melangkahkan kaki untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid. 

Berbicara masalah pendidikan, penduduk di dusun ini sangat tertinggal jauh dari pendidikan yang ada di perkotaan. Di dusun ini hanya terdapat satu bangunan sekolah yang terbagi dari TK, SD dan SMP yang menurut saya sangat jauh dari kata layak jika kita membandingkan dengan sekolah-sekolah yang ada di kota-kota besar. 

Sekolah ini dibangun atas inisiatif dari masyarakat setempat dan hanya memiliki satu orang guru. Tapi satu hal yang harus kalian ketahui, anak-anak yang ada di dusun Bara ini memiliki semangat yang sangat membara untuk menempuh pendidikan walaupun kondisi sekolah mereka sangat memprihatinkan. 

Banyak diantara mereka yang bercita-cita ingin menjadi seorang guru. Alasannya hanya satu yaitu untuk mencerdasakan anak bangsa. Mereka ingin suatu hari nanti adik-adik mereka mendapatkan pendidikan yang layak. 

Di tempat ini saya bisa menemukan makna hidup yang sebenarnya, bahwa hidup adalah untuk berbagi. Suatu kesyukuran bisa berbagi kebahagiaan dengan mereka. Dari sini saya belajar untuk tetap bersemangat dan senantiasa bersyukur atas apa yang Allah berikan pada saya.

Mari bergabung bersama kami di Komunitas Koin Untuk Negeri 
Dari Sudut Negeri Kita Menginspirasi

Nurul Resky
Relawan Sekolah Jejak Nusantara 


Wahai Ayahanda……
 
Pemimpin Negara ini 
Pernahkah Engkau melihat, merasakan dan memijakkan kakimu di tanah kelahiran saudara/saudaraku yang indah ini 
Di tanah ini mereka hidup nan damai 
Di tanah ini pula mereka meluapkan seluruh mimpi dan cita-citanya 

Wahai Ayahanda…….. 
Pernahkah Engkau melihat? 
Ketika pagi menjelang, Mereka berjalan beralaskan sandal seadanya 
Menyusuri jalan yang bagitu indah 
Jalan yang hanya beralaskan tanah dan bebatuan 

Ayah………… 
Mereka pergi dengan harapan yang begitu besar 
Untuk menuntut ilmu Mereka tak pernah berpikir, 
Tak pernah mengeluh Apakah jalannya bagus atau tidak? 

Apakah sekolahnya bagus atau tidak? 
Apakah gurunya ada atau tidak? 
Yang mereka tahu hanyalah menuntut ilmu
Untuk masa depan mereka 

Ayah……….. 
Mereka tak pernah berharap lebih dariMu 
Cukup Engkau berikan mereka kesempatan yang sama seperti saudara/saudariku di perkotaan 

Ayah……….. 
Ayahandaku yang tercinta 
Pemimpin Negara yang indah ini 
Ku titipkan salam rindu, 

Salam cinta, 
Salam hangat, dari saudara/saudariku yang nan jauh di sana

Nur Hidayatullah
Relawan Sekolah Jejak Nusantara


Siang itu,,, 
Kami berkumpul, meluruskan niat disertakan doa 
Melangkah dengan penuh semangat di bawah terik matahari 
Senda gurauan para kakak relawan membuatku cekikan 
Sampai batas nafas kami tak beraturan 

Batu besar di bawah pepohonan rindang jadi awal peristirahatan kami 
Air putih yang menyejukkan tubuh kami pun menjadi pendamping yang setia bagi kami selama perjalanan 
Di sekeliling kami terbentang luas ciptaan Allah,,, 

Alam yang tidak tersentuh sedikit pun oleh manusia 
Menjadi pemandangan yang begitu indah di mata 
Bukit teletubies menjadi tempat favorit istirahat kami Sawah terbentang luas,,,, 
Gunung menjulang tinggi nampak dekat dengan kami 
Menjelang matahari terbenam kami melanjutkan perjalan menyusuri hutan 

Bersenjatakan senter hp yang menjadi cahaya penunjuk langkah kami 
Suasana semakin terasa menegangkan Angin yang kencang 
Suara gonggonan anjing 
Sayup-sayup kami mendengar suara kerumunan orang desa Hanya kami... 

Cahaya rembulan pun turut serta menemani langkah kami hingga sebuah gedung kecil nampak di pandangan kami 
Peluh keringat semakin membasahi tubuh ini,,, disertakan nafas yang terengah-engah 
Mencoba melanjutkan kembali langkah sembari berharap selamat sampai di tujuan kami... 
Dan kami pun di sambut suara gonggonan anjing 
Gelap seperti tak berpenghuni 

Menghentikan langkah sebentar agar bersihkan niat lagi sebelum memasuki desa ini... Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh desa Tompobulu dusun Bara 
Malam semakin larut dalam kesunyian,,, 
Sebuah rumah panggung menjadi tempat menginap kami 
Beralaskan tikar kami tertidur pulas 

Pagi,,, 
Cuaca dingin dikarenakan angin begitu kencang 
Tetap membuat kami bersemangat berolahraga,,, senam 
Makan seadanya,,, ditambah teh hangat sebagai pendamping 
Pengganjal perut kami untuk berjalan ke sekolah yang ternyata jaraknya cukup jauh,,, 

Jalan berbatu mendaki dan menurun membuat kami tersentak-sentak 
Tetapi terdengar sayup-sayup suara anak kecil tertawa sambil bermain 
Membuatku dan kawan-kawan lainnya terenyuh 
Melihat mereka yang begitu semangat 
Sebagian berpakaian sekolah sebagian pula berbaju biasa 

Kulangkahkan kaki memasuki sekolah mereka dan membuatku seakan jatuh tersungkur ke tanah betapa kurang bersyukur diriku selama ini 
Mereka yang masih semangat bersekolah ditengah kurangnya fasilitas pendidikan di desa 
Membuatku tersadar akan egoisnya hati tatkala meronta-ronta di hadapan orang tua saat tidak terpenuhi 1 hal saja dari kebutuhan sekolah ku dulu,,, 

Menangis hati ini,,, 
Sekolah yang hanya satu gedung berdindingkan papan kayu yang mulai lapuk 
Di dalam terbagi 3 bagian yang berbataskan triplex 
Sungguh aku malu, sedih dan tertampar keras 
Akankah mereka diberikan fasilitas yang layak Itu yang terlintas dibenakku 
Sungguh saat yang dinanti pun datang,,, 

Ilmu yang selama ini kuhafal ternyata Allah berikan kesempatan untuk kubagi ke mereka 
Bermodalkan media kertas yang dibagi pada kakak relawan 
Kubersungguh-sungguh ingin membuatnya tahu walau hanya 1 kata yang terlontar dari bibirku 
Bermain, tertawa ria bersama, memperhatikan kakak relawan lain menjelaskan senang rasanya 
Beribu belas kasih tak cukup jua jikalau rasa semangat hilang dari diri adik-adik 
Kelak sejuta impian yang kalian cita-citakan dapat terwujud 
Membanggakan kedua orang tua dan senangtiasa bersyukur atas rahmat yang Allah berikan pada kalian adik-adikku 

Tidak puas rasanya diri ini hanya bertatap muka dengan mereka beberapa hari saja 
Akan kusisipkan selalu kalian di dalam doa yang kupanjatkan pada Rabb Agar kalian sukses di masa mendatang,,, 
Membangkitkan kembali desa Bara terutama pendidikan anak-anak disana Yah jika besar nanti adik-adikku kembali ke kampung kalian dan harumkan namanya,,, 

Itu doaku yang akan selalu kupanjatkan buat kalian.....

Nurfadillah Sunusi
Relawan Sekolah Jejak Nusantara


Tuan… 

Aku juga adalah anak negeri 
Aku tinggal di pelosok 
Sudikah engkau bila berkunjung dan bermain dengan ku? 

Aku juga adalah anak bangsa 
Jangan asingkan aku dengan kesibukan untuk infrastruktur mu di kota 
Lihatlah tuan 
Ada aku disini menghamba dengan janji mu 
Menanti dalam harapan yang tak pernah putus 

Sungguh sayang cinta tinggi ku pada cita-cita 
Yang tak terjamah suka cita kelayakan pendidikan 

Ingin ku… 

Kunjungilah tempat ku bermukim 
Rasakan betapa indahnya pelosok yang tak pernah kau sentuh ini 

Tuan.. 

Aku adalah generasi mu 
Aku adalah harapan penerus bangsa yang tak mau kau lihat
Aku..aku..juga ingin merasakan sentuhan kasi sayang pemerintah untuk desa ku 
Lihatlah tuan Semangatku menuntut ilmu tak pernah goyah 
Tusukan kerikil, baluran tanah, guyuran hujan bahkan tanjakan dan jurang ku lalui 
Aku tetap bersekolah 

Demi Negara ku 
Demi Impian ku 
Demi Bangsa ku

Nurfadillah Arifuddin
Relawan Sekolah Jejak Nusantara
Diberdayakan oleh Blogger.