Ayo Berdonasi untuk Pendidikan

Semua manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk mengubah hidup orang lain. Memberi adalah salah satu kemampuan itu. Mari bersama-sama wujudkan mimpi adik-adik di sudut negeri untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

KLIK DISINI

Rabu, 24 april 2019, saya tiba di makassar bersama teman-teman calon relawan dari Palopo yang berjumlah delapan orang, tepatnya perwakilan Bus lita dalam rangka menjadi relawan dalam suatu kegiatan Komunitas Koin Untuk Negeri. Dalam kegiatan tersebut kita langsung terjun kelokasi sekolah yang berada diwilayah yang yang masih jarang di akses kendaraan.

Sekolah- sekolah yang mestinya mendapat perhatian khusus dari pemerintah kota sebab kondisi sekolah yang boleh di kata jauh dari kata layak untuk disebut sebagai ruang kelas, sebab sarana dan prasarana yang tidak memadai.

Menurut saya pribadi kegiatan yang seperti inilah yang mestinya di programkan oleh mahasiswa yang kita ketahui bersama sebagai agen perubahan, social control dan moral force. Sebab kemudian miris melihat kondisi adik-adik yang sekolah di wilayah pelosok dengan sarana dan prasarana yang kurang memadai serta tenaga pengajar yang kurang.

Semestinya hal- hal seperti inilah yang kemudian perlu di giatkan demi terwujudnya pendidikan yang merata, tanpa adanya peran pemuda dalam memperhatikan hal-hal yang seperti ini pendidikan tak akan bisa menyebar ataupun dapat di rasakan oleh adik-adik yang ada diwilayah pelosok kota.

Kegiatan sekolah jejak nusantara komunitas koin untuk negeri inilah yang kemudian membagkit semangat saya pribadi sebagai calon pendidik untuk benar-benar belajar dengan giat sebab semngat dari pada adik-adik yang berada dipelosok dengan keterbatasan ruang, sarana dan prasana namun dengan penuh semangat kemudian berangkat ke sekolah yang berjarak jauh dari tempat tinggalnya namun tak pernah letih untuk kemudian merasakan yang bangku sekolah.

Harapan saya kemudian semoga kakak-kakak dari komunitas kun dapat menjangkau semua sekolah-sekolah terpencil yang berada diwilayah Sulawesi khususnya dan semoga kedepannya kegiatan yang seperti ini tak terbatas diwilyah Sulawesi saja melainkan mencakup seluruh wilayah NKRI. Saya pribadi berharap kedepannya kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh kakak-kakak dari komunitas KUN dapat selalu menginspirasi.

Relawan Sekolah Jejak Nusantara 
Institut Agama Islma Negeri ( IAIN ) Palopo

Mendidik adalah tugas konstisional negara, tetapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral bagi tiap orang yang terdidik begitulah yang sering di ungkapkan Anies Baswedan waktu masih menjabat sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan di Indonesia.

Sebagai Mahasiswa di salah satu kampus swasta di makassar memaknai pendidikan sebagai proses mencetak generasi-generasi intelektual untuk memberikan solusi bagi setiap permasalahan negeri ini tentunya tak cukup hanya mengandalkan tingginya nilai IPK anda ataupun seberapa rajin anda masuk dan mengerjakan tugas-tugas kuliah yang di berikan oleh para dosen tentunya di perlukan kepekaan mendalam terhadap fenomena-fenomena yang terjadi negeri ini terkhususnya dalam aspek pendidikan yang ada, jika di tanya seberapa mampu sih anda untuk bisa menrefleksi dunia pendidikan saat ini? Mungkin saya pun masih kekurangan banyak data untuk menjawab pertanyaan ini.

Pada kesempatan yang lalu saya mengikuti salah satu program sekolah jejak nusantara yang diadakan oleh komunitas koin untuk negeri salah satu komunitas di makassar yang bergerak dalam dunia pendidikan dan sosial. Mengenal lebih dalam pendidikan yang ada di pelosok negeri tentunya akan menambah wawasan kita terkait fenomena-fenomena pendidikan yang ada di negeri ini tepatnya di Kabupaten Maros Kecamatan Tompobulu Desa Bonto Somba Dusun Bara.

Jarak yang di tempuh dengan berkendara selama kurang lebih dua jam dengan medan yang agak ekstrim mengharuskan perjalanan harus di lanjutkan dengan berjalan kaki selama kurang lebih 3-4 jam lamanya mendaki dan menurun melewati jembatan gantung hamparan sawah dari ketinggian serta air yang mengalir dari gunung yang langsung bisa di minum menambah semangat teman-teman relawan untuk sampai pada lokasi tujuan meski harus membawa tas besar untuk kebutuhan hidup dan materi ajar yang akan di pake untuk beberapa hari pengabdian hal itu tak membuat teman-teman mengeluh dan itu sudah menjadi kebiasaan bagi para relawan KUN (Koin Untuk Negeri) untuk tetap menginspirasi di berbagai pelosok negeri.

Tentunya tak seperti di kota disaat anak-anak di tunjang fasilitas lengkap dalam belajar di dusun bara siswa masih duduk melantai dalam menerima pelajaran yang ada tak heran jika kebanyakan siswa lebih suka memakai sendal kesekolah daripada memakai sepatu bahkan putih merah di pake setiap hari, ada pula yang memakai baju pramuka dengan celana levis ke sekolah dan kalau ditanya pasti jawabannya akan bermacam-macam ada yang mengatakan seragam sekolahnya memang hanya ada merah putih saja, ada yang bilang seragamnya udah kekecilan ada yang bilang sudah robek dan tak pernah di jahit-jahit lagi dan jika kita lihat seragam mereka memang kebanyakan sudah kusut dan lama tak pernah di ganti yang baru lagi mungkin begitulah sedikit potret pendidikan yang ada saat ini.

Saya pun sempat berpikir andai saja sistem aturan pendidikan sekolah yang ada di kota sama halnya diterapkan di sekolah-sekolah pelosok mungkin saja siswa-siswa di dusun bara banyak yang tak lagi mau kesekolah hanya terkendala seragam sekolah yang harus di seragamkan.

Pada suatu kesempatan pada kelas agama saya mengajari salah satu siswa bernama Mita siswa kelas dua di dusun bara gadis kecil berwajah mirip ala india yang memakai seragam putih merah dengan jilbab hijau dikepalanya setiap hari Mita selalu membawa adiknya ke sekolah yang bernama Salasa bocah kecil yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak yang selalu memakai seragam olahraga dan memakai topi SMP sebagai penutup kepalanya dan jika ditinggal atau dipisahkan dengan kakaknya Salasa akan menangis sekencang-kencangnya. Materi ajar saat itu mengenal huruf hijaiyyah dan tes mengaji iqro’ dan ternyata Mita benar-benar belum bisa mengaji bahkan belum terlalu mengenal hijaiiyah dan jika kutanya huruf apa ini dia hanya menggeleng malu-malu tidak tahu.

Ada satu kejadian yang tak bisa kulupa dari mita saat mengajarinya mengenal huruf hijaiiyah dengan media yang ku pegang saat itu berupa huruf-huruf hijaiiyah saya mencoba menyebutkan satu persatu huruf tersebut dan kemudian di ikuti oleh Mita saya menyebutkan 6 huruf awal di huruf hijaiiyaah Alif, ba, ta tsa, ja ha. “Mita coba ulangi Mita pun mengulanginya alif, ba, ta, ja, ehh.. bukan ja tapi tsa sudah pi tsa baru ja begitu kataku kepada mita” dan saya pun mencoba menunjuk huruf kemudian mita mencoba menyebutkan huruf tersebut saya menunjukkan huruf alif dan seterusnya secara berurut.

“ Apa ini Mita”

“alif”

Kalau yang ini

“Ba”

Yang ini

“Ta”

Apa ini “Ja”

Dan dia pun kembali menyebutkan huruf ja ( خَ ) meskipun yang kutunjuk adalah huruf tsa ( ث ). Dan saya mencobanya lagi berharap dia sudah mengenali huruf tsa

“ Apa ini Mita”

“alif”

Kalau yang ini

“Ba”

Yang ini

“Ta”

Apa ini

“Ja”

Dan dia kembali lagi menyebutkan huruf ja meskipun yang kutunjuk adalah huruf tsa dan saya pun kembali memberikan pengertian lagi kalau huruf ini adalah huruf tsa ( ث ) bukan huruf ja ( خَ ) dan saya pun mengulanginya lagi berharap kali ini berhasil dan mampu membedakan yang mana huruf ja yang mana tsa

“ Apa ini Mita”

“alif”

Kalau yang ini

“Ba”

Yang ini

“Ta”

Apa ini

“Ja”

“ eh bukan, itu tsa” sontak mita berdiri dengan keningnya yang agak mengkerut tajam, matanya merah berkaca-kaca melototi saya sambil menarik adiknya salasa, dia berdiri di ujung pintu dan tampaknya dari bahasa tubuhnya dia tak mau lagi belajar dengan saya, saya mencoba membujuk beberapa kali tetap dia tak mau mendekati saya meskipun saya berusaha meminta maaf bahkan saya terus membujuknya hingga jam belajar usai dan akhirnya jam pulang tetap saja Mita belum benar-benar memaafkan saya.

Esoknya kami dan relawan yang lain pun bersiap-siap untuk balik ke makassar, pada saat itu hari minggu dan saya tak bisa menjumpai Mita di sekolah di karenakan memang hari libur dan saya pun belum sempat menanyakan di mana rumahnya.

Kejadian kemarin akan selalu menjadi catatan penting bagi saya meskipun di bangku kuliah saya menggeluti bidang ilmu pendidikan, saya belajar psikologi pendidikan, metode pembelajaran, microteaching dan hal-hal yang terkait dengan proses mendidik tapi pada saat mendapat materi ini di kampus saya agak menyepelekan mata kuliah tersebut mungkin di karenakan memang saya jarang masuk ataupun ketika masuk kurang memperhatikan apa yang di jelaskan para dosen.

Akhirnya saya di buat sadar oleh Mita betapa penting mempelajari teori-teori mendidik sebelum mempraktekkannya, betapa pentingnya mengetahui karakter siswa terlebih dahulu sebelum masuk pada materi ajar, dan betapa pentingnya mengetahui kemampuan siswa terlebih dahulu sebelum memberikannya tugas dalam belajar. Anda boleh saja memaksa siswa masuk kelas dan menyuruhnya diam tapi tidak untuk memahami dan mengerti apa yang kalian ajarkan dan saya belajar banyak hal dari marahnya Mita saat itu kepada saya dan semoga saya bisa ketemu lagi dengan Mita dan berdamai lagi dengan saya dan saya harap ia sudah mampu membedakan yang mana huruf tsa yang mana huruf ja dan sudah bisa mengaji dengan lancar.

Relawan Sekolah Jejak Nusantara

Pada hari kamis, 25 – 2019 saya melakukan sebuah perjalanan menuju Maros lebih tepatnya desa bara, bersama dengan kakak kakak relawan KUN lainnya. Kami melakukan perjalanan menggunakan motor kurang lebih 2 jam sampai dengan di penitipan motor.

Setelah kami menitipkan motor dan beristirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan menggunakan kaki, di perjalanan kami melewati berbagai macam rintangan, jalan yang penuh dengan batuan besar, jalan yang licin karena lumut, jebatan goyang, bahkan jurang.

Didalam perjalanan menuju desa bara saya hampir menyerah saya tidak sanggup/ mampu lagi untuk mendaki, tetapi ada kakak relawan yang membantu serta menyemangati saya agar terus berjalan. Dan saat itu saya berfikir bagaimana bisa hanya dengan ini saya menyerah, bagaimana dengan adik adik yang setiap harinya melewati jalanan ini hanya untuk menuju kesekolah. Setelah kurang lebih 5 jam perjalanan akhirnya kami sampai di desa tersebut.

Keesokan harinya kami melanjutkan kegiatan kami dengan mengajar adik adik yang berada dipelosok. Kami menuju sekolah yang cukup jauh dari permukiman serta jalanan yang kurang mendukung. Di desa tersebut hanya terdapat 1 sekolah itupun hanya terdapat satu bangunan yang dalamnya sudah terbagi dalam beberapa tingkatan, mulai dari TK, SD, sampai SMP. Peralatan disekolah itu juga masih sangat kurang, mereka hanya beralaskan karpet.

Dan, Adik adik yang berada dipelosok masih sangat minim akan benda benda yang menurut kita sudah lumrah seperti, pulpen yang mempuyai lima warna. Ada satu adik dari pelosok yang mempertanyakan apa itu? Benda apa itu? Mengapa warnanya sangat banyak?. Kalau kita berfikir lagi seberapa terbatasnya adik adik yang berada dipelosok itu hingga pulpen itu mereka tidak mengetahuinya. Adik adik yang berada dipelosok dengan keterbatasan yang sangat banyak, mereka sangat rajin serta sangat bersemangat untuk sekolah. Mereka menumpuh jarak yang jauh untuk sampai kesekolah.

Bukan cuman sekolahnya saja tapi desa nya juga mempunyai keterbatasan seperti masyarakat disana tidak menggunakan listrik melainkan ia hanya mengandalkan obor sebagai pencahayaan. Pertama kali saya sampai saya hanya berfikir bisaka masyarakat disini hidup tanpa menggunakan listrik? Tapi nyatanya mereka sudah terbiasa dengan keadaan tersebut.

Didalam komunitas Koin Untuk Negeri ( KUN ) ini saya sangat mendapat banyak pelajaran yang saya tidak dapat di bangku kuliah yang menurut saya di bangku kuliah yang mungkin juga kalian sudah tau yaitu belajar belajar dan belajar, di komunitas ini kita diajarkan bagaimana agar ilmu kita tidak menjadi sia sia, bagaimana kita bisa membantu adik adik dengan ilmu yang kita dapat. dan menurut saya ini adalah hal baru untuk saya, hal baru bagi saya bisa mengajar adik adik yang berada dipelosok dengan berbagai macam karakter.

Relawan Sekolah Jejak Nusantara

Kamis, 25 April 2019. Dimana saya memulai perjalanan yang luar biasa menuju Dusun Bara desa Bontosamba, kec. Tompobulu kab. Maros tempat yang benar-benar terpencil. Karena komunitas "koin untuk negeri" saya dapat kesempatan untuk melakukan perjalanan yang ekstrim ini. Saya bisa mendapat pengalaman baru, bisa bertemu tempat baru, serta berkenalan dengan orang orang baru dan itu ternyata sangat menyenangkan.

Awalnya kami saling tersipu malu ketika bertegur sapa, tetapi pada akhirnya kami dapat membangun persaudaraan yang erat dengan waktu yang singkat. Untuk komunitas "koin untuk negeri" Terima kasih telah memberikan saya kesempatan untuk ikut andil dalam mengukir senyum di wajah adik-adik di pelosok sana, Terima kasih telah memberikan saya kesempatan untuk berbagi ilmu kepada mereka yang tidak sempat merasakan dunia pendidikan yang layak, dan terima kasih pula karena komunitas ini saya bisa merasakan hidup beberapa hari tanpa listrik dan jaringan.

Semua itu menurut saya sangat menyenangkan karena di jalani bersama-sama. Ada satu waktu yang membuat hati saya teriris dimana ada hal-hal yang mungkin menurut kita itu tidak perlu di pertanyakan tetapi mereka mempertanyakannya. Saya begitu banyak belajar disana dalam perjalanan saya banyak mengeluh tetapi saya selalu menyemangati diri saya bahwa saya harus semangat saya harus kuat demi sebuah senyuman mereka disana, demi menghilangkan rasa penasaran yang dari tadi terus bertanya sebenarnya ada apa di depan sana.

Lelah memang sangat terasa tetapi semuanya terobati dengan melihat semangat adik adik dalam belajar, melihat senyuman mereka yang seakan akan tanpa beban sedikit pun. 4 hari 3 malam hidup tanpa listrik, tanpa cahaya dan riuh kendaraan. Sangat berbeda  dengan kehidupan biasanya, ketika kembali ke kota Makassar.

Saya merasa asing dengan semuanya, seolah olah saya baru pertama melihat banyak cahaya dan keramaian saya tidak tau kenapa saya merasa begitu takjub melihat semuanya. Komunitas "koin untuk negeri" Terima kasih atas semua pengalaman dan pelajaran yang berharga ini.

Terima kasih telah membuat saya lebih bisa mencintai dan menghargai alam, Dan terima kasih telah memperkenalkan saya dengan adik adik yang sangat luar biasa. Saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari komunitas ini. Semoga komunitas koin untuk negeri bisa lebih menginspirasi ke depanny.

Relawan Sekolah Jejak Nusantara
Instansi : UIN Alauddin Makassar 
Prodi : Pengembangan masyarakat Islam

Berbicara masalah pendidikan kita sama-sama mengetahui bahwa dunia pendidikan khususnya di Indonesia memiliki berbagai permasalahan yang mendarah daging dan tak kunjung usai. Kondisi alam yang terdiri dari berbagai pulau-pulau, daratan tinggi hingga desa yang terpencil menyebabkan penyebaran kualitas pendidikan dan ketersediaan sarana dan dan prasarana pendidikan menjadi tidak merata dan jauh tertinggal.

Kualitas pendidikan yang buruk disebabkan karena kurangnya tenaga pengajar yang mumpuni. Jangankan mumpuni, jumlah pengajar saja yang tersebar di daerah terpencil masih sangat minim hingga mengorbankan generasi penerus bangsa. Banyak dari pendidik sebagian besar lebih memilih untuk mengajar di kota-kota besar dan mengabaikan desa atau pelosok disebabkan karena kurangnya hiburan dan sarana penting lainnya seperti intansi kesehatan, instansi keamanan, tempat tinggal yang nyaman yang disediakan oleh pemerintah, letak sekolah yang sangat jauh dan koneksi internet yang sangat minim di daerah-daerah sehingga menyebabkan penurunan pengetahuan yang signifikan bisa dibilang terlampau jauh apa yang diketahui oleh anak-anak pelosok dan di daerah perkotaan.

Masalah tersebut semakin menjadi-jadi dengan tidak adanya infrastruktur berupa akses transportasi yang memadai dari masyarakat ke sekolah. Saya beserta teman-teman komunitas menyaksikan langsung banyak dari anak-anak yang perlu berjalan jauh untuk mencapai lokasi bahkan mengadu nyawa dengan menyusuri lereng yang terjal dan menyeberangi jembatan yang fungsinya sudah tidak layak lagi untuk digunakan demi mendapatkan sedikit banyaknya pengetahuan dari pendidik berbeda dengan di perkotaan dengan infrastruktur yang sudah merata bahkan trasnportasi dari berbagai angkutan umum sudah ada hingga memudahkan para peserta didik atau anak-anak yang merasakan pendidikan sudah sangat terbantu oleh fasilitas-fasilitas yang tersedia.

Himpitan ekonomi dan masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan lebih memilih untuk menomer duakan sekolah hanya untuk membantu bekerja baik di kebun maupun di sawah dan tidak jarang orang tua tidak menyekolahkan anaknya. Hal ini membuat angka putus sekolah semakin meningkat. Data dari departemen pendidikan dan kebudayaan menunjukkan bahwa setiap menit ada 4 anak yang terancam putus sekolah.

Saya sependapat bahwa pendidikan adalah hak segala bangsa termasuk mereka yang tinggal di pedalaman. Sudah seharusnya pemerintah berupaya untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut. Hal ini sesuai dengan amanat UUD 1945 Pasal 31: (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan Undang-Undang. (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Maka beban permasalahan pendidikan di Indonesia tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah semata bahkan kita juga harus membuka mata dan tidak secara membabi buta menyalahkan keseluruhan atau membebankan kesalahan penuh terhadap pemerintah bisa jadi karena akses yang kurang memadai atau transportasi yang susah untuk mencapai sekolah tersebut maka anggaran atau bantuan dari pemerintah juga susah untuk didapatkan atau susah terealisasikan kebelahan sekolah-sekolah yang ada pada daerah-daerah pelosok sehingga mengapa di perkotaan sekolah-sekolahnya makmur karena akses yang mudah dicapai sehingga segala bantuan bisa di dapatkan dan di maksimalkan di dalam suatu sekolah maka di perlukan kerjasama yang baik dari pemerintah dan masyarakat.

Untuk percepatan pemerataan kualitas sarana dan prasarana pendidikan diperlukan kerjasama berbagai pihak seperti Pemerintah, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, IPM (Indeks Pembangunan Manusia), NGO (Non Governmnet Organization) yang memetingkan orang lain dan bersifat sukarela, dan BPS (Badan Pusat Statistik) dengan terbangunnya kerjasama yang baik di dalam roda pemerintahan untuk memperbaiki pendidikan di negara kita tercinta ini sehingga muncullah program-program baik program yang lama dan program yang baru itu mampu mengurangi angka putus sekolah dan menurut data angka putus sekolah di 2017/2018 yang lalu mencapai 32.127 orang. ini berarti program-program yang dijalankan oleh pemerintah salah satu contohnya yaitu SM 3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal).

Program ini telah memberikan kontribusi yang cukup baik bagi pemerataan pendidikan di Indonesia. Selain itu, program tersebut juga dapat membuka jalan bagi para relawan baik itu relawan tenaga pendidik atau relawan pemerhati ahli yang memiliki ide kreatif terkait permasalahan pendidikan. Namun demikian, untuk benar-benar menuntaskan berbagai permasalahan pelik pendidikan di Indonesia dibutuhkan sumber daya yang tidak sedikit dan saling terkoordinasi sehingga dapat menumbuhkan semangat dan membangun cita-cita yang tinggi dengan bertumbuhnya cita-cita maka semangat anak-anak untuk mengenyam bangku pendidikan akan lebih tinggi lagi.

Mengutip kata-kata dari Bapak Anis Baswedan bahwa “Kekayaan terbesar sebuah bangsa adalah manusianya bukan sumber daya alamnya.” Dengan demikian pendidikan haruslah menjadi prioritas utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak lupa semboyan Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa ini bukan hanya sekedar kata-kata untuk seorang guru baik pendidik di daerah pedalaman maupun yang ada diperkotaan.

Sekarang masuk toilet untuk membuang air kita bayar bagaimana dengan kesejahteraan guru yang lebih positif untuk memanusiakan manusia dan memperbaiki para penerus bangsa ini patutkah mereka tidak dibayar, patutkah mereka di abaikan jawabannya tidak, maka pemerintah juga seharusnya memperhatikan kesejahteraan guru secara menyeluruh sehingga para professional yang telah sukses di berbagai bidang hendaknya tidak lupa untuk kembali menengok sekolah yang ada di pelosok membantu memajukan kualitas pendidikan karena sudah sepatutnya pendidikan menyejahterakan manusia bukan malah menyengsarakan manusia.

Dengan pendidikan seorang mampu mengubah dirinya, mengubah lingkungannya, bahkan mengubah dunia ke arah yang lebih baik karena bisa jadi terobosan-terobosan terkait pemecahan masalah global seperti penyakit-penyakit yang belum ditemukan obatnya dan yang lainnya ada dalam pemikiran salah satu anak yang putus sekolah maupun yang terbatasi oleh fasilitas yang terlampau jauh di daerah perkotaan.

Relawan Sekolah Jejak Nusantara

Pagi yang cerah bersama teman-teman relawan yang ceria di rumah ceria. Pagi ini saya bersama teman-teman yang penuh cinta itu bertemu mereka yang punya banyak cinta di hati dan jiwanya untuk menyelesaikan misi menebar ceria pada anak-anak di sebuah kampung di atas gunung bernama Dusun Bara di sana kami akan berbagi ceria untuk masa depan gemilang.

 Dari rumah ceria kami bergegas ke rumah kreatif untuk bertemu dan berkumpul penuh cinta dan ceria, berkenalan lalu saling tertawa, lalu saling mengejek dan pada akhirnya saling membahagiakan, di rumah kreatif ini kami berkumpul lalu saling bahu membahu untuk mempersiapkan banyak hal yang akan kami bawa untuk persiapan selama kegiatan beberapa hari kedepan di sebuah kampung yang belum saya pernah kunjungi sebelumnya.

Perlengkapan yang kami persiapkan yaitu berupa media pembelajaran, hadiah, games dan masih banyak lagi hal lainnya serta alat dan bahan makanan yang nantinya akan menjadi konsumsi kami selama berada di sana.

Setelah semua barang sudah rapi panitia mengabsen semua calon relawan yang ikut dalam kegiatan ini, setelah semuanya berkumpul kami meninggalkan BC dengan mengendarai sepeda motor dan bergegas menuju suatu desa yang berada di Kabupaten Maros. Tak lupa pula ketua umum Komunitas KUN memimpin do'a agar kegiatan yang akan kita lakukan diberikan kelancaran dan keberkahan oleh Allah, SWT. Bergerak menuju tempat pengabdian, kurang lebih 3 jam perjalanan menendarai sepeda motor kami tiba di sebuah rumah yang menjadi tempat istirahat sejenak dan tempat penitipan sepeda motor sebelum kami melakukan perjalanan panjang dengan berjalan kaki.

Jalan setapak mendaki gunung, rumah-rumah warga yang berada di tengah-tengah hutan dan di pinggir jurang yang begitu menakutkan, banyak pohon-pohon pinus yang kami lewati, pohon-pohon yang sudah mati akibat kemarau yang berkepanjangan.

Sangat jauh perjalanan dengan jalan kaki ini, teringat dengan masa-masa mahasiswa baru yang mengikuti pengaderan dengan teman-teman angkatan. Sudah 3 tahun berlalu masa pengaderan dan 3 tahun berlalu pula saya tidak melakukan perjalanan panjang dengan berjalan kaki dan hari ini saya melakukannya kembali, seperti ingin menyerah di perjalanan karena medannya yang menurutku sangat tinggi, berat badan yang sudah lumayan berat ini mempengaruhi agar berhenti dijalan. Tapi engkau tahu? Semangatku untuk bertemu dengan adik-adik manis Bara yang menghilangkan lelah ini, berjalan terus melewati tebing, jurang, dan hutan-hutan.

Perjalanan masih sangat panjang, siang akan menjadi malam. Sepertinya magrib telah datang menemui, tak ada suara adzan yang menemui karena rumah warga masih sangat jauh belum ada tanda-tanda perkampungan sementara kita sudah berjalan dalam kegelapan. Singkat cerita setelah melakukan perjalanan kurang lebih 5 jam kami sampai di sebuah rumah salah satu warga yang akan kami tempati selama kegiatan berlangsung. Kami disambut hangat oleh warga dan adik-adik.

Saat di lokasi, kami bukan untuk pergi rekreasi atau semacamnya melainkan kami pergi untuk mewujudkan sebuah visi yaitu berbagai kegiatan yang akan kami jalani selama 2 hari kedepan. Adapun kelas SEJARA yaitu kelas Agama, Kreatifitas, Literasi, Inspirasi dan Alam. Miris campur haru ketika saya masuk ke kelas Agama saya mendapat pj salah satu anak yang sudah kelas 4 tetapi beliau belum mengetahui tata cara wudhu, waktu sholat dan bacaan-bacaan sholat, saya sempat berpikir "apa yang salah denganmu dik, sudah kelas 4 belum tau pelajaran-pelajaran dasar yang anak TK saja sudah tahu".

Namun sepeti itulah keadaan adik-adik kita disana yang menempuh pendidikan dengan segala keterbatasan. Mungkin inilah sebabnya saya dengan teman-teman berada di sini untuk memberikan sedikit pembelajaran yang dapat berguna untuk adik-adik dan sedikit memotivasi adik-adik untuk tetap belajar dan meraih cita-citanya agar dapat berguna bagi agama, negara, nusa dan bangsa.

Selain pembelajaran, keceriaan dan keseruan dengan adik-adik, kebersamaan dengan teman-teman relawan juga tak kalah mengesankan. Suasana kekeluargaan yang sangat terasa, hampir tanpa sekat, semua sangat indah, mungkin hal inilah yang begitu cepat mempersatukan kami karena sebuah visi yang sama yaitu ingin mengabdi dan mencerdaskan anak bangsa. Tapi itu pemikiran saya pribadi heheh entahlah tapi satu hal yang pasti kami berada di Dusun Bara, yang Insya Allah kami bisa sedikit bermanfaat untuk adik-adik, karena sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat bagi saudaranya.

Tibalah hari kepulangan kami dari Dusun Bara, berat rasanya meninggalkan kampung adik-adik setelah 4 hari kami melakukan pengabdian disini dengan berbagi ilmu, pembelajaran maupun pengalaman. Memang terasa singkat, tapi apa boleh buat kami juga mempunyai kesibukan masing-masing yang tidak bisa kami tinggalkan. Semoga dilain waktu kami dapat bertemu kembali dengan adik-adik dengan cerita yang lebih menyenangkan. Aamiin.

Relawan Sekolah Jejak Nusantara

Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh ketiga poin yang disebutkan diatas dan kesuksesan tidak akan terwujud apabila ketiga poin diatas tidak terpenuhi.Tanggapan terhadap ketiga permasalahan diatas seperti yang telah diketahui bahwa pembangunan sarana prasarana lebih terfokus kan pada pembangunan dilingkungan perkotaan ketimbang di pedesaan hal ini yg menjadi kendala majunya pendidikan di pelosok karena adanya perbedaan dalam hal tersebut.

Sedangkan kualitas guru yang kurang memadai seharusnya menjadi perenungan tersendiri bagi para pendidik sebelum terjun langsung ke suatu lapangan apakah sudah siap atau sebaliknya, serta kondisi lingkungan dan masyarakat yang sangat memprihatinkan serta ketinggalan mereka dalam hal pendidikan menjadi perenungan tersendiri bagi para Pemuda-pemudi yang memiliki kepedulian terhadap keadaan sekitar dan upaya yg nyata perlu diterapkan dilingkungan yang membutuhkan itu demi terciptanya suatu pendidikan yang menyeluruh tanpa mengenal perbedaan dan mewujudkan generasi penerus yang peduli akan nasib kedepan suatu bangsa.

Calon Relawan Sekolah Jejak Nusantara (SEJARA) Angkatan 16 /
Mahasiswi UIN Alauddin Makassar
Diberdayakan oleh Blogger.