Ayo Berdonasi untuk Pendidikan

Semua manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk mengubah hidup orang lain. Memberi adalah salah satu kemampuan itu. Mari bersama-sama wujudkan mimpi adik-adik di sudut negeri untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

KLIK DISINI

Berbicara masalah pendidikan kita sama-sama mengetahui bahwa dunia pendidikan khususnya di Indonesia memiliki berbagai permasalahan yang mendarah daging dan tak kunjung usai. Kondisi alam yang terdiri dari berbagai pulau-pulau, daratan tinggi hingga desa yang terpencil menyebabkan penyebaran kualitas pendidikan dan ketersediaan sarana dan dan prasarana pendidikan menjadi tidak merata dan jauh tertinggal.

Kualitas pendidikan yang buruk disebabkan karena kurangnya tenaga pengajar yang mumpuni. Jangankan mumpuni, jumlah pengajar saja yang tersebar di daerah terpencil masih sangat minim hingga mengorbankan generasi penerus bangsa. Banyak dari pendidik sebagian besar lebih memilih untuk mengajar di kota-kota besar dan mengabaikan desa atau pelosok disebabkan karena kurangnya hiburan dan sarana penting lainnya seperti intansi kesehatan, instansi keamanan, tempat tinggal yang nyaman yang disediakan oleh pemerintah, letak sekolah yang sangat jauh dan koneksi internet yang sangat minim di daerah-daerah sehingga menyebabkan penurunan pengetahuan yang signifikan bisa dibilang terlampau jauh apa yang diketahui oleh anak-anak pelosok dan di daerah perkotaan.

Masalah tersebut semakin menjadi-jadi dengan tidak adanya infrastruktur berupa akses transportasi yang memadai dari masyarakat ke sekolah. Saya beserta teman-teman komunitas menyaksikan langsung banyak dari anak-anak yang perlu berjalan jauh untuk mencapai lokasi bahkan mengadu nyawa dengan menyusuri lereng yang terjal dan menyeberangi jembatan yang fungsinya sudah tidak layak lagi untuk digunakan demi mendapatkan sedikit banyaknya pengetahuan dari pendidik berbeda dengan di perkotaan dengan infrastruktur yang sudah merata bahkan trasnportasi dari berbagai angkutan umum sudah ada hingga memudahkan para peserta didik atau anak-anak yang merasakan pendidikan sudah sangat terbantu oleh fasilitas-fasilitas yang tersedia.

Himpitan ekonomi dan masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan lebih memilih untuk menomer duakan sekolah hanya untuk membantu bekerja baik di kebun maupun di sawah dan tidak jarang orang tua tidak menyekolahkan anaknya. Hal ini membuat angka putus sekolah semakin meningkat. Data dari departemen pendidikan dan kebudayaan menunjukkan bahwa setiap menit ada 4 anak yang terancam putus sekolah.

Saya sependapat bahwa pendidikan adalah hak segala bangsa termasuk mereka yang tinggal di pedalaman. Sudah seharusnya pemerintah berupaya untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut. Hal ini sesuai dengan amanat UUD 1945 Pasal 31: (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan Undang-Undang. (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Maka beban permasalahan pendidikan di Indonesia tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah semata bahkan kita juga harus membuka mata dan tidak secara membabi buta menyalahkan keseluruhan atau membebankan kesalahan penuh terhadap pemerintah bisa jadi karena akses yang kurang memadai atau transportasi yang susah untuk mencapai sekolah tersebut maka anggaran atau bantuan dari pemerintah juga susah untuk didapatkan atau susah terealisasikan kebelahan sekolah-sekolah yang ada pada daerah-daerah pelosok sehingga mengapa di perkotaan sekolah-sekolahnya makmur karena akses yang mudah dicapai sehingga segala bantuan bisa di dapatkan dan di maksimalkan di dalam suatu sekolah maka di perlukan kerjasama yang baik dari pemerintah dan masyarakat.

Untuk percepatan pemerataan kualitas sarana dan prasarana pendidikan diperlukan kerjasama berbagai pihak seperti Pemerintah, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, IPM (Indeks Pembangunan Manusia), NGO (Non Governmnet Organization) yang memetingkan orang lain dan bersifat sukarela, dan BPS (Badan Pusat Statistik) dengan terbangunnya kerjasama yang baik di dalam roda pemerintahan untuk memperbaiki pendidikan di negara kita tercinta ini sehingga muncullah program-program baik program yang lama dan program yang baru itu mampu mengurangi angka putus sekolah dan menurut data angka putus sekolah di 2017/2018 yang lalu mencapai 32.127 orang. ini berarti program-program yang dijalankan oleh pemerintah salah satu contohnya yaitu SM 3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal).

Program ini telah memberikan kontribusi yang cukup baik bagi pemerataan pendidikan di Indonesia. Selain itu, program tersebut juga dapat membuka jalan bagi para relawan baik itu relawan tenaga pendidik atau relawan pemerhati ahli yang memiliki ide kreatif terkait permasalahan pendidikan. Namun demikian, untuk benar-benar menuntaskan berbagai permasalahan pelik pendidikan di Indonesia dibutuhkan sumber daya yang tidak sedikit dan saling terkoordinasi sehingga dapat menumbuhkan semangat dan membangun cita-cita yang tinggi dengan bertumbuhnya cita-cita maka semangat anak-anak untuk mengenyam bangku pendidikan akan lebih tinggi lagi.

Mengutip kata-kata dari Bapak Anis Baswedan bahwa “Kekayaan terbesar sebuah bangsa adalah manusianya bukan sumber daya alamnya.” Dengan demikian pendidikan haruslah menjadi prioritas utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak lupa semboyan Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa ini bukan hanya sekedar kata-kata untuk seorang guru baik pendidik di daerah pedalaman maupun yang ada diperkotaan.

Sekarang masuk toilet untuk membuang air kita bayar bagaimana dengan kesejahteraan guru yang lebih positif untuk memanusiakan manusia dan memperbaiki para penerus bangsa ini patutkah mereka tidak dibayar, patutkah mereka di abaikan jawabannya tidak, maka pemerintah juga seharusnya memperhatikan kesejahteraan guru secara menyeluruh sehingga para professional yang telah sukses di berbagai bidang hendaknya tidak lupa untuk kembali menengok sekolah yang ada di pelosok membantu memajukan kualitas pendidikan karena sudah sepatutnya pendidikan menyejahterakan manusia bukan malah menyengsarakan manusia.

Dengan pendidikan seorang mampu mengubah dirinya, mengubah lingkungannya, bahkan mengubah dunia ke arah yang lebih baik karena bisa jadi terobosan-terobosan terkait pemecahan masalah global seperti penyakit-penyakit yang belum ditemukan obatnya dan yang lainnya ada dalam pemikiran salah satu anak yang putus sekolah maupun yang terbatasi oleh fasilitas yang terlampau jauh di daerah perkotaan.

Relawan Sekolah Jejak Nusantara

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.