Ayo Berdonasi untuk Pendidikan

Semua manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk mengubah hidup orang lain. Memberi adalah salah satu kemampuan itu. Mari bersama-sama wujudkan mimpi adik-adik di sudut negeri untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

KLIK DISINI

kondisi kelas sekolah adik-adik di dusun Bara kab. Maros
Perkenalkan nama saya Arfiah Ainun Salsabila. Saya biasa dipanggil salsa. Saya berasal dari desa terpencil yang dahulunya untuk sampai ke desa harus menempuh 7 jam perjalanan dengan mobil dan setelah itu menyebrangi sungai dengan perahu 30 menit. Lekkong itu nama desanya terdapat di kabupaten Enrekang. Namun, sekarang sudah terdapat jembatan yang menghubungkan desa kami dengan desa lain. Saya berasal dari Universitas Muhammadiyah Makassar jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Sewaktu kuliah sampai sekarang saya aktif di Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan sekarang saya bergabung di organisasi IELTS Republic, organisasi yang memberikan semua orang kesempatan belajar IELTS tanpa harus memikir biaya.

Setiap pilihan yang kita pilih pasti semua punya alasan kenapa kita memilih itu. Menjadi seorang relawan dalam program Sejara ini ada salah satu pilihan yang saya pilih untuk menambah wawasan dan pengalaman saya. Dan sebagai seorang pendidik dan pengajar masa kini dan masa depan saya harus selalu mengupgrade kinerja dan kualitas saya dan salah satu caranya dengan melihat segala kekurangan dalam dunia yang saya tekuni yaitu dunia pendidikan.

Kita semua mengetahui dan dapat melihat perbandingan desa dan kota mulai dari sarana dan prasarana sekolah, kualitas guru, buku siswa, mental siswa dan juga kurikulum yang diterapkan di sekolah mereka masing-masing. Di desa-desa terpencil yang susah dijangkau pastilah tidak mempunyai sarana yang bisa menunjang proses belajar mengajar seperti computer, proyektor, dan lain-lain. Belum lagi kondisi sekolah yang tidak sebagus dan tidak seluas apa yang sering kita lihat di kota-kota besar yang mempunyai alat yang lengkap dalam setiap kelas. Selanjutnya apakah berbeda kualitas guru yang ada di desa dan di kota ? tentunya berbeda karena masalah dan kondisi yang mereka hadapi tentu saja berbeda. Kalau di kota kelas 1 SD sudah harus mampu membaca sedangkan di desa kelas tinggi masih banyak yang belum lancar membaca itu dimaklumi melihat sarana dan prasana yang tidak sama belum lagi buku dan kurikulum setiap sekolah tidak sama.

Melihat akun Instagram @anggitpurwanto yang sering memposting sangat kurangnya fasilitas yang ada di desa tempatnya SM3T yang saya pribadi sangat miris melihatnya. Baju seragam yang mereka miliki dipenuhi noda lumpur yang mereka dapat ketika menempuh perjalanan dari rumah ke sekolah. Tak cukup itu disalah satu postingannya siswa-siswa itu hanya menggunakan sandal jepit dan kantong kresek untuk pergi ke sekolah. Itu salah satu potret pendidkan di wilayah terpencil dan terpelosok di negeri ini. Berapa banyak wilayah lagi, berapa siswa-siswi lagi, berapa sekolah lagi yang senasib dengan sekolah yang diposting oleh Anggitpurwanto.
Terlalu banyak hal yang perlu di benahi dalam penyataraan pendidikan dan peningkatan kualitas di negeri kita. Terlalu banyak bukan berarti tidak mungkin dan tidak mungkin untuk kita bisa meningkatkan kualitas peserta didik. Sekarang sudah ada program SM3T, Indonesia mengajar dan lain-lain. Tidak hanya itu sudah banyak pemuda pemudi negeri ini yang punya perhatian lebih terhadap pendidikan di Indonesia menciptakan komunitas yang mempunyai program untuk mengabdi ke pelosok daerah terpencil ke seberang pulau yang tersentuh modernitas itulah salah satu cara untuk memperbaiki pendidikan di negeri yang kita cintai ini.

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.