Refleksi oleh Kak Zaenal : Langkah Kecil di Tanah yang Jauh, Makna Besar yang Tertinggal



Haloo, sobat KUNers! Berjumpa kembali bersama MinKUN👋🤩

     MinKUN kembali memberikan sajian refleksi yang ditulis oleh salah satu relawan dari SEJARA XLII kak Zaenal. Refleksi adalah segelintir perjalanan serta pengalaman mengenai kegiatan Sekolah Jejak Nusantara (SEJARA) yang dituangkan melalui media tulisan oleh para relawan SEJARA. 

       Beragam jenis kisah mulai dari ulasan bersifat bahagia, haru, lucu, unik, dan berbagai jenis cerita lainnya dituangkan sebebas mungkin berdasarkan pengalaman mengikuti kegiatan SEJARA dari kakak-kakak relawan. Tanpa banyak basa-basi lagi, mari simak bersama uraian refleksi berikut ini : 


 Langkah Kecil di Tanah yang Jauh, Makna Besar yang Tertinggal

Oleh : Kak Zaenal

Dokumentasi pribadi milik Komunitas Koin untuk Negeri

Aku datang ke pelosok ini (kampung lurae) bukan sebagai orang yang benar-benar “baru”. Jalan tanahnya terasa akrab, suara sunyinya tidak asing, dan cara anak-anak memandang dunia pelan tapi penuh harap seolah pernah kutemui di cermin masa kecilku sendiri.

Di kampung tempat ku tumbuh aku juga pernah diajar oleh seorang relawan, dan sekarang, ketika aku berdiri di posisi yang sama menjadi relawan, mengajar anak-anak di pelosok aku sering teringat hari itu. Aku sadar, mungkin dulu aku bukan hanya sedang belajar, tapi juga sedang melihat versi diriku di masa depan.

Menjadi relawan di Kampung lurae seperti berjalan pulang, tapi dengan langkah yang berbeda. Dulu aku adalah anak yang berdiri di bangku kayu, mendengarkan dengan penuh mimpi yang kadang terasa terlalu jauh untuk digapai. Kini, aku berdiri di depan mereka bukan karena aku sudah sampai, tapi karena aku sedang berusaha kembali, membawa sedikit cahaya yang dulu juga pernah kucari.

Hari ini, aku kembali ke pelosok, tapi bukan lagi sebagai anak yang berjalan dengan harap yang ragu. Aku datang sebagai relawan, berdiri di depan anak-anak yang kini memandangku seperti dulu aku memandang masa depan pelan, takut, tapi penuh harap.

Empat hari mungkin terdengar singkat bagi sebagian orang. Tapi bagiku, empat hari di Kampung Lurae terasa seperti perjalanan panjang yang mengubah cara pandangku tentang hidup, tentang arti hadir, dan tentang makna memberi.

Ini adalah pengalaman pertamaku menjadi relawan. Awalnya, aku datang dengan semangat yang sederhana ingin membantu, ingin berbagi, ingin melakukan sesuatu yang berarti. Tapi sesampainya di sana, aku justru merasa menjadi orang yang paling banyak menerima.

Kampung Lurae menyambut dengan kesederhanaannya. Jalanan yang tidak selalu mudah dilalui, fasilitas yang terbatas, dan kehidupan yang jauh dari kata “cukup” menurut standar kota. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang tidak bisa diukur yaitu kehangatan.

Anak-anak di sana mengajarkanku arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Dengan seragam yang kadang tidak lagi utuh, dengan buku yang tak lengkap, mereka tetap datang dengan semangat yang utuh. Mata mereka berbinar saat belajar, tangan kecil mereka terangkat penuh keberanian untuk menjawab, dan tawa mereka tulus, tanpa beban.

Aku ingat bagaimana mereka begitu antusias hanya karena hal-hal kecil: permainan sederhana, cerita singkat, atau sekadar dipanggil namanya. Dari mereka, aku belajar bahwa bahagia tidak selalu tentang memiliki banyak, tapi tentang mampu mensyukuri apa yang ada.

Empat hari itu juga mengajarkanku tentang arti hadir. Bukan hanya hadir secara fisik, tapi benar-benar ada untuk mereka mendengar, memahami, dan membersamai. Terkadang, yang mereka butuhkan bukanlah sesuatu yang besar, tapi seseorang yang mau meluangkan waktu dan peduli.

“Di tempat yang jauh dari sorotan, mereka tetap bermimpi setinggi langit meski jalan menuju sekolah saja kadang terasa lebih berat daripada mengejar masa depan.”

Hari terakhir terasa berat. Bukan karena lelah, tapi karena harus pergi. Ada ikatan yang terjalin begitu cepat, begitu dalam. Aku pulang bukan hanya membawa kenangan, tapi juga membawa tanggung jawab baru untuk terus peduli, untuk tidak melupakan mereka, dan untuk terus menjadi bagian dari perubahan, sekecil apa pun itu.

Pengabdian ini bukan hanya tentang apa yang aku berikan, tapi tentang apa yang aku pelajari. Tentang bagaimana hidup seharusnya dijalani dengan lebih sederhana, lebih bersyukur, dan lebih peduli terhadap sesama.

Dan dari Kampung Lurae, aku belajar satu hal yang akan selalu kuingat: bahwa terkadang, kita pergi untuk memberi, tapi justru pulang dengan hati yang penuh.




#SekolahJejakNusantara

#DariSudutNegeriKitaMenginspirasi


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama