Haloo, sobat KUNers! Berjumpa kembali bersama MinKUN👋🤩
MinKUN kembali memberikan sajian refleksi yang ditulis oleh salah
satu relawan dari SEJARA XLI kak Izza. Refleksi adalah segelintir
perjalanan serta pengalaman mengenai kegiatan Sekolah Jejak Nusantara
(SEJARA) yang dituangkan melalui media tulisan oleh para relawan
SEJARA.
Beragam jenis kisah mulai dari ulasan bersifat bahagia, haru, lucu, unik, dan berbagai jenis cerita lainnya dituangkan sebebas mungkin berdasarkan pengalaman mengikuti kegiatan SEJARA dari kakak-kakak relawan. Tanpa banyak basa-basi lagi, mari simak bersama uraian refleksi berikut ini :
Senyuman Dibalik Kampung Pattung
Oleh : Kak Izza
Di atas perbukitan Kampung Pattung berdiri tenang, setiap paginya diselimuti embun tipis. Dari kejauhan, kampung itu tampak sederhana, seolah menyatu dengan alam yang mengelilinginya. Perjalanan menuju ke sana bukanlah perjalanan yang mudah. Jalanan yang berliku, berbatu, dan dipenuhi tanah kering menjadi tantangan yang harus dilalui dengan hati-hati. Sepeda motor masih dapat melewati jalur itu, meski membutuhkan kesabaran dan keberanian. Namun, berjalan kaki menuju kampung tersebut menghadirkan pengalaman yang berbeda, setiap langkah terasa lebih dekat dengan alam, lebih dekat dengan kehidupan masyarakat yang tinggal jauh dari hiruk-pikuk kota.
Di balik alamnya yang sunyi dan sederhana, Kampung Pattung menyimpan kehidupan yang hangat. Malam datang dengan kesunyian yang pekat. Tidak ada aliran listrik yang menerangi rumah-rumah warga. Sinyal telepon pun tidak selalu hadir, kadang muncul sebentar lalu menghilang begitu saja. Cahaya dari senter dan suara kecil genset menjadi teman di malam hari. Meski begitu, suasana di sana tidak terasa menakutkan. Justru menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Setiap pagi, udara segar menyapa dengan lembut, seolah kampung itu sedang membuka tangan dan menyambut siapa pun yang datang.
Saya datang ke Kampung Pattung bersama para relawan lainnya. Kami membawa media pembelajaran sederhana yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tak hanya itu, kami juga membawa keinginan untuk berbagi dan harapan kecil agar kehadiran kami dapat memberikan manfaat bagi anak-anak di sana. Hari demi hari kami lalui bersama mereka, hingga tibalah hari kedua, yang juga menjadi hari terakhir kami mengajar. Anak-anak itu memandang kami dengan mata penuh rasa ingin tahu. Mereka tidak banyak berbicara, tetapi tatapan dan senyum mereka terasa begitu tulus, seolah menjadi ucapan terima kasih yang tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata.
Saat itu, seorang relawan sedang menjelaskan tentang sosok pahlawan perempuan yang memperjuangkan hak-hak wanita. Anak-anak mendengarkan dengan serius. Mereka menatap ke depan tanpa banyak bergerak, seolah ingin menyerap setiap kata yang diucapkan. Saya ikut membantu menjelaskan sedikit tentang tokoh tersebut kepada seorang anak perempuan yang duduk di dekat saya. Namun, setiap kali saya berbicara kepadanya, ia hanya membalas dengan senyum kecil. Dari sorot matanya terlihat bahwa ia masih merasa malu untuk berbicara.
“Kamu kelas berapa?” tanya saya pelan.
“Kelas empat, kak.” jawabnya singkat.
“Kamu suka belajar?”
Ia menganggukkan kepala seraya tersenyum kecil. Setelah itu, pandangannya kembali tertuju ke depan ketika relawan lain mulai mengajukan pertanyaan kepada seluruh anak-anak. Saya membisikkan jawaban dari pertanyaan itu kepadanya, berharap ia mau mencoba menjawab. Namun, ia hanya membalas dengan senyum malu. Bahkan untuk sekadar mengangkat tangan pun ia tampak ragu.
Saya terdiam sejenak, lalu mengusap bahunya dengan lembut, mencoba memberikan sedikit keberanian.
“Tidak usah malu, di sini kita sama-sama belajar.” ujar saya pelan.
“Iya, kak.” jawabnya sambil tersenyum.
Senyum kecil itu terasa begitu hangat. Di balik suaranya yang pelan, saya dapat merasakan ketakutan sekaligus harapan yang masih berusaha tumbuh. Senyum itu membuat saya sadar bahwa harapan bisa hidup di mana saja, bahkan di tempat yang jauh dari kemewahan dan perhatian banyak orang. Anak-anak di Kampung Pattung mungkin hidup dalam keterbatasan, tetapi mereka tetap memiliki mimpi yang ingin diraih.
Saya menyadari bahwa mungkin kami tidak datang membawa perubahan besar. Kehadiran kami mungkin hanya sebentar dan sederhana. Namun setidaknya, kami telah menyalakan sesuatu dalam diri mereka, sebuah keyakinan bahwa mereka juga berhak bermimpi dan belajar setinggi mungkin. Perjalanan panjang dan rasa lelah menuju Kampung Pattung terasa tidak berarti ketika melihat semangat kecil yang mulai tumbuh di mata mereka.
Dari kampung itu saya belajar bahwa ''Pendidikan bukan hanya tentang buku, angka, atau pelajaran di kelas. Pendidikan juga tentang keberanian untuk percaya pada diri sendiri, tentang seseorang yang hadir untuk mengatakan bahwa mereka mampu''. Kampung Pattung mengajarkan saya bahwa di balik setiap keterbatasan selalu ada cahaya kecil yang menunggu untuk ditemukan. Dan selama masih ada anak-anak yang terus ingin belajar, dunia akan selalu memiliki alasan untuk tetap berharap.