Haloo, sobat KUNers! Berjumpa kembali bersama MinKUN👋🤩
MinKUN kembali memberikan sajian refleksi yang ditulis oleh salah satu relawan dari SEJARA XLII kak Harini. Refleksi adalah segelintir perjalanan serta pengalaman mengenai kegiatan Sekolah Jejak Nusantara (SEJARA) yang dituangkan melalui media tulisan oleh para relawan SEJARA.
Beragam jenis kisah mulai dari ulasan bersifat bahagia, haru, lucu, unik, dan berbagai jenis cerita lainnya dituangkan sebebas mungkin berdasarkan pengalaman mengikuti kegiatan SEJARA dari kakak-kakak relawan. Tanpa banyak basa-basi lagi, mari simak bersama uraian refleksi berikut ini :
Tentang Perjalanan, Ketulusan, dan Semangat yang Menghidupkan Harapan
Oleh: Kak Harini
Namun di balik ketertarikan itu, saya sempat diliputi keraguan. Pada waktu yang sama, saya sedang menjalani kegiatan magang sehingga saya mempertimbangkan banyak hal sebelum akhirnya mengambil keputusan. Hingga ketika melihat jadwal pemberangkatan yang bertepatan dengan tanggal merah, saya mulai meyakinkan diri bahwa mungkin ini adalah kesempatan yang tidak seharusnya saya lewatkan. Tepat pada tanggal 21 April 2026, saya memberanikan diri untuk mendaftar. Dari langkah kecil itulah perjalanan saya dimulai.
SEJARA XLII menjadi pengalaman pertama saya mengikuti kegiatan pengabdian seperti ini. Karena itu, setiap proses yang saya lalui terasa begitu baru, begitu bermakna, dan perlahan membuka cara pandang saya terhadap banyak hal dalam hidup.
Perjalanan menuju lokasi pengabdian bukanlah perjalanan yang mudah. Kegiatan ini dilaksanakan di SD Inpres 7/83 Watangcani, Dusun Lurae, Desa Watang Cani, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone. Jalanan yang kami lalui dipenuhi tanah becek dan licin, menguras tenaga dan kesabaran. Tidak hanya itu, setibanya di lokasi, kami juga harus berada jauh dari jaringan dan akses komunikasi. Dalam keadaan seperti itu, saya sempat berpikir tentang betapa beratnya kehidupan masyarakat yang setiap hari hidup dalam keterbatasan tersebut.
Tetapi semua rasa lelah itu perlahan menghilang ketika saya melihat anak-anak di sana. Saya melihat mata-mata kecil yang penuh semangat. Saya melihat tawa yang begitu tulus. Saya melihat anak-anak yang datang dengan penuh antusias meski hidup dalam keterbatasan yang mungkin sulit saya bayangkan sebelumnya. Bahkan beberapa di antara mereka harus berjalan kaki selama kurang lebih dua hingga tiga jam demi bisa sampai ke sekolah. Jalan panjang yang melelahkan itu mereka tempuh tanpa mengeluh, hanya karena mereka ingin belajar.
Di sekolah itu, saya juga mengetahui bahwa hanya ada satu guru yang mengajar, dan bahkan beliau melakukannya tanpa menerima bayaran. Di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya perhatian, semangat untuk mempertahankan pendidikan tetap hidup. Dan justru di tempat sederhana itulah saya menemukan makna pendidikan yang sesungguhnya.
Anak-anak di SD Inpres 7/83 Watangcani mengajarkan saya bahwa semangat tidak lahir dari kemudahan. Mereka menunjukkan bahwa harapan dapat tumbuh bahkan di tempat yang jauh dari kata cukup. Mereka belajar dengan hati yang penuh keikhlasan, bermain dengan kebahagiaan yang sederhana, dan menyambut kami dengan hangat seolah kami adalah keluarga yang telah lama mereka tunggu.
Ada satu hal yang terus teringat dalam benak saya: bagaimana mungkin anak-anak yang hidup dengan segala keterbatasan justru memiliki semangat yang begitu besar, sementara di luar sana banyak orang yang mudah menyerah meski hidup dengan segala kemudahan?
Dari perjalanan ini, saya belajar tentang arti syukur dalam bentuk yang paling nyata. Saya belajar bahwa tidak semua anak memiliki akses pendidikan yang layak, tetapi mereka tetap memilih untuk datang ke sekolah dan memperjuangkan masa depan mereka. Saya juga belajar bahwa menjadi relawan bukan hanya tentang hadir untuk memberi, tetapi tentang membuka hati untuk menerima pelajaran kehidupan dari orang-orang yang kita temui.
SEJARA XLII bukan sekadar kegiatan pengabdian bagi saya. Ia adalah perjalanan yang mengubah cara saya memandang kehidupan. Perjalanan yang mempertemukan saya dengan ketulusan, perjuangan, dan harapan-harapan kecil yang terus menyala di pelosok negeri.
Dan mungkin benar, bahwa terkadang kita perlu pergi jauh untuk akhirnya memahami arti dari hal-hal sederhana yang selama ini kita miliki.
Terima kasih kepada Komunitas Koin Untuk Negeri, teman-teman SEJARA XLII, para guru, dan terutama adik-adik di Watangcani yang telah memberikan pengalaman yang tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga menyentuh hati. Saya pulang dengan tubuh yang lelah, tetapi dengan hati yang jauh lebih hidup.
