Haloo, sobat KUNers! Berjumpa kembali bersama MinKUN👋
MinKUN kembali memberikan sajian refleksi yang ditulis oleh salah satu relawan dari SEJARA XXXVI, kak Muslim. Refleksi adalah segelintir perjalanan serta pengalaman mengenai kegiatan Sekolah Jejak Nusantara (SEJARA) yang dituangkan melalui media tulisan oleh para relawan SEJARA. Beragam jenis kisah mulai dari ulasan bersifat bahagia, haru, lucu, unik, dan berbagai jenis cerita lainnya dituangkan sebebas mungkin berdasarkan pengalaman mengikuti kegiatan SEJARA dari kakak-kakak relawan.
Tanpa banyak basa-basi lagi, mari simak bersama uraian refleksi berikut:
Pendidikan adalah hak dasar setiap anak, tetapi tidak semua anak di dunia ini memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas. Di wilayah-wilayah pelosok, banyak sekolah yang kekurangan sumber daya dan fasilitas yang memadai. Menjadi relawan pendidikan di daerah tersebut adalah langkah mulia yang dapat memberikan dampak signifikan bagi perkembangan anak-anak dan lingkungan warga setempat. Seperti halnya yang berada di sekolah SDI Mangempang yang berlokasi di Dusun Datara, Kabupaten Gowa, sarana serta prasarana untuk kebutuhan belajar mengajarnya masih jauh dari istilah “memadai.”
Bahkan murid-murid kelas 5 SD di sekolah tersebut masih ada yang belum mampu mengenali dan menghafal abjad. Selain itu, kemampuan mereka dalam mengenal aturan penulisan abjad antara huruf kapital dan huruf kecil masih cenderung tidak karuan. Pada kegiatan tulis-menulis, mereka kerap memadukan huruf kapital dan huruf kecil, yang di mana hal ini tentu tidak sesuai dengan pedoman ejaan. Saya mengobservasi hal-hal miris tersebut pada kegiatan pengabdian Sekolah Jejak Nusantara (SEJARA) XXXVI Komunitas Koin Untuk Negeri (KUN) di Dusun Datara, Desa Mangempang, Kec. Bugaya, Kab. Gowa, Sulawesi Selatan. Dalam hal ini, program SEJARA KUN membantu meningkatkan kualitas pendidikan di daerah pelosok dengan memberikan akses ke sumber daya pendidikan berupa tenaga pengajar, turut membangun pendidikan karakter yang dibutuhkan melalui program 5 kelas yaitu Kela Literasi, Agama, Kreativitas, Alam, dan Inspirasi.
Saya mendaftar di Komunitas Koin Untuk Negeri oleh karena saya tertarik dalam program-program bermanfaat yang telah mereka dedikasikan. Dibalik itu, saya juga teringat sebuah pepatah,
"Menanam ilmu, menuai masa depan.”
Dari hal tersebut, semakin memotivai saya untuk bergabung bersama Komunitas KUN. Di samping itu, saya memiliki alasan utama, yaitu saya ingin menjadi seorang guru. Dalam pandangan saya, tentu tidak mudah bagi seseorang menjadi guru yang merupakan salah satu profesi mulia.
Saya pernah mendengar ucapan bijak yang berkata,
"Guru adalah pelita dalam kegelapan, pemandu dalam kebingungan.”
Bisa dibilang, dari situlah, saya bersemangat dalam mengajar anak-anak penerus generasi bangsa, baik itu mereka yang berada di pondok maupun di pelosok. Yang membuat saya semakin tertarik adalah semesta sepertinya memahami kekhawatiran-kekhawatiran saya, karena pada saat saya sedang mengajar, baik itu di kelas Literasi, Inspirasi, Agama, Kreativitas, dan Alam, saya justru dipertemukan dengan adik-adik yang kepribadiannya hampir mirip dengan saya, sehingga saya tidak begitu kesulitan mengajar. Maka dari itu, saya sudah cukup paham harus menggunakan metode pendekatan mengajar seperti apa, karena rasanya seperti mengajari diri sendiri, hehehe.
Saya sangat menikmati proses belajar mengajar ini, ternyata seru juga, tidak semenakutkan yang saya pikirkan. Menjadi relawan pendidikan di pelosok bukanlah tugas yang mudah namun, dampaknya sangat besar bagi anak-anak dan masyarakat setempat. Semua manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk mengubah hidup orang lain, memberi adalah salah satu bentuk kemampuan tersebut.
Mari terus bersama wujudkan mimpi adik-adik di sudut negeri untuk mendapatkan pendidikan yang layak!
Pun saya merasa sangat kagum dengan antusias semangat belajar adik-adik di Dusun Datara, meski dengan sarana dan prasarana sekolah yang masih terbatas, tidak menghalangi semangat mereka untuk menuntut ilmu. Saya semakin dibuat terkesan dengan salah satu adik di tempat pengabdian kali ini, yaitu Rahmat, seorang anak istimewa yang semangat belajarnya sangat tinggi bila dibandingkan dengan diri sendiri yang masih sering mengeluh.
Terima kasih kepada
Komunitas Koin Untuk Negeri (KUN) telah memberi kesempatan saya bisa berproses
di sini dan terima kasih kepada kakak-kakak panitia program SEJARA XXXVI,
relawan-relawan lainnya, kepada adik-adik, serta warga Dusun Datara karena
telah memberi warna baru di hidup saya yang sebelumnya hanya hitam putih. Saya
belajar banyak hal dari pengalaman pertama saya sebagai seorang relawan, terutama lebih memaknai arti dari rasa syukur.
Ingatlah, hidup ini hanya sekali. Setiap momen yang kita miliki adalah kesempatan yang berharga untuk tumbuh, belajar, dan mencintai. Jangan sia-siakan waktu dengan penyesalan atau rasa takut. Jalani setiap hari dengan penuh semangat, keberanian, dan kebijaksanaan, karena kita tidak pernah tahu kapan kesempatan ini akan berakhir. Hargai setiap pengalaman, baik suka maupun duka, karena semuanya adalah bagian dari perjalanan kita yang unik dan tidak tergantikan.
Tulisan ini dibuat atas dasar kepedulian tinggi terhadap kondisi ketimpangan pendidikan di sudut negeri oleh kak Muslim Ruli Gunawan. Akrab disapa kak Muslim, salah satu relawan Sekolah Jejak Nusantara (SEJARA) angkatan XXXVI, saat ini berstatus sebagai mahasiswa jurusan S1 Pendidikan Bahasa Arab di Universitas Negeri Makassar. Pokoknya, kak Muslim ini selalu ji kita' lihat nangkring di BCnya KUN, ada-ada ji selalu anaknya di sana~
Salam hangat,
Muslim
#Komunitas_KUN
#DariSudutNegeriKitaMenginspirasi


