Bukan hanya tentang tanah dan
pertanian, tetapi tentang pendidikan, tentang manusia dan tentang ruang-ruang
kecil di negeri ini yang sering luput dari perhatian. Di tengah kesibukan
perkuliahan dan tuntutan rutinitas, saya belajar memahami makna tumbuh.
Hai! Perkenalkan nama saya Anisa,
salah satu mahasiswi Pertanian di Universitas Cokroaminoto Palopo. Bagi saya,
keputusan untuk ikut dalam kegiatan relawan di Komunitas Koin Untuk Negeri
(KUN) adalah awal dari sebuah perjalanan yang penuh makna.
Kamis, 15 Januari 2026. Setelah
menempuh perjalanan dari pusat kota yang memakan waktu hampir 3 jam. Melewati
jalan yang kecil, tanjakan terjal yang hanya diterangi oleh cahaya lampu
kendaraan dan lelah yang perlahan datang, bersama dengan teman-teman dari
Komunitas KUN, kami pun akhirnya tiba dilokasi pengabdian…
Dusun
Salu Paku yang terletak di Kab. Luwu Utara, Kec. Sabbang, Desa Tandung. Di
tempat ini, keindahan hadir tanpa kemewahan. Bangunan-bangunan rumah sederhana
berdiri, menyatu dengan hamparan sawah hijau yang membentang luas. Aliran
sungai mengalir jernih dan gunung yang menjulang anggun dikejauhan, seolah
menjaga dusun salu paku dengan pelukan sunyi. Jalan setapak berliku menjadi
saksi langkah-langkah kecil penuh harapan, sementara jembatan gantung menghubungkan
cerita, keberanian dan mimpi-mimpi yang terus menyeberang setiap hari.
Dijembatan inilah, hampir setiap harinya suara langkah kaki terdengar, sebagian
beralaskan sandal, sebagian pula ada yang bersepatu. Semuanya menuju ke tempat
yang sama, yaitu sebuah sekolah dasar yang berada di lereng bukit.
SD Negeri 026 Salu Paku, terdiri
dari 3 bangunan yang menaungi 6 ruang kelas. Sekolah yang tampak sederhana,
namun setiap dindingnya menyimpan semangat belajar yang tak pernah padam.
Disekolah ini, kami disambut dengan antusiasme adik-adik yang tulus, menyimak
dengan mata berbinar, bertanya dengan rasa ingin tahu dan tertawa lepas
disela-sela pelajaran. Dari mereka kami belajar, bahwa pendidikan tidak selalu
tumbuh diruang yang mewah atau fasilitas yang lengkap melainkan semangat untuk
belajar. Sementara disisi yang sama, kehidupan desa bergerak dengan ritmenya
sendiri. Saat matahari belum meninggi, orang-orang dewasa berangkat kesawah
untuk mengolah tanah dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Keringat yang jatuh
menjadi wujud semangat untuk terus bertahan dan menumbuhkan kehidupan.
Malam kian tiba. Dibawah langit
malam salu paku, Anak-anak, warga, dan para relawan duduk berdampingan, saling
berbagi cerita, tawa dan saling mengucapkan terima kasih serta, menyimpan
kenangan yang kelak akan dirindukan. Kami berkumpul dalam satu ruang
kebersamaan, yaitu malam ramah tamah yang menjadi penutup perjalanan SEJARA
XXIII, sebelum hari esok tiba sebagai waktu bagi kami untuk kembali ke rumah
masing-masing. Namun, malam itu bukanlah akhir dari pertemuan, melainkan
penutup sementara dari perjalanan yang telah mengikat kami dalam kepedulian.
Menjadi bagian dari SEJARA XXIII
adalah sebuah perjalanan yang tidak hanya membawa saya ke tempat yang baru,
tetapi juga mempertemukan saya dengan wajah-wajah penuh mimpi, langit yang
berbeda, serta pelajaran hidup yang tak pernah tertulis di bangku perkuliahan.
