Refleksi Oleh Kak Aisyah : Di Balik Tanjakan, Ada Mimpi yang Menyala

 Haloo, sobat KUNers! Berjumpa kembali bersama MinKUN👋🤩
     MinKUN kembali memberikan sajian refleksi yang ditulis oleh salah satu relawan dari SEJARA XLII kak Aisyah. Refleksi adalah segelintir perjalanan serta pengalaman mengenai kegiatan Sekolah Jejak Nusantara (SEJARA) yang dituangkan melalui media tulisan oleh para relawan SEJARA. 

       Beragam jenis kisah mulai dari ulasan bersifat bahagia, haru, lucu, unik, dan berbagai jenis cerita lainnya dituangkan sebebas mungkin berdasarkan pengalaman mengikuti kegiatan SEJARA dari kakak-kakak relawan. Tanpa banyak basa-basi lagi, mari simak bersama uraian refleksi berikut ini : 

 Di Balik Tanjakan, Ada Mimpi yang Menyala

Oleh : Kak Aisyah 



Dokumentasi pribadi milik Komunitas Koin untuk Negeri

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Haloo sobat-sobat KUNers yang selalu membawa cahaya dan inspirasi.

Semoga sobat KUNers senantiasa diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan langkah yang selalu dikuatkan dalam setiap perjalanan. Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi pengingat bahwa di tempat yang jauh sekalipun, selalu ada pelajaran hidup yang menunggu untuk dipeluk.

Perjalanan menuju Desa Watangcani, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone menjadi salah satu perjalanan yang tak akan mudah kulupakan. Perjalanan itu bukan hanya tentang berpindah tempat, tetapi tentang menemukan makna di balik setiap langkah yang terasa berat. Jalan yang kami lewati penuh tanjakan, berliku, dan saat itu hujan turun cukup deras. Tanah berubah menjadi lumpur, jalanan menjadi licin dan becek. Motor yang kami gunakan beberapa kali kesulitan menanjak, bahkan sesekali harus didorong bersama-sama agar bisa terus melanjutkan perjalanan. Tubuh terasa lelah, pakaian basah oleh hujan, namun entah mengapa semangat untuk sampai justru tidak pernah surut.

Setelah tiba di tempat peristirahatan Indo Ambo, ternyata perjalanan belum selesai. Untuk menuju sekolah di Desa Lure, kami masih harus melanjutkan perjalanan sekitar tiga puluh menit lagi. Saat itu aku mulai membayangkan bagaimana anak-anak di sana menjalani hari-harinya. Perjalanan yang tidak mudah, akses yang terbatas, dan kondisi yang jauh dari kata sederhana.

Sesampainya di sekolah, aku mulai memahami cerita yang selama ini hanya kudengar dari orang lain. Anak-anak di sana tidak selalu bisa datang ke sekolah. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan tenaga pengajar. Namun di balik keterbatasan itu, aku menemukan sesuatu yang begitu berharga. Aku menemukan anak-anak yang tetap ingin belajar. Anak-anak yang tetap datang dengan semangat, meskipun keadaan tidak selalu berpihak pada mereka.

Mereka mungkin memiliki banyak keterbatasan, tetapi mereka tidak kekurangan mimpi. Mereka cerdas, cepat memahami pelajaran, meskipun beberapa di antara mereka masih mengalami kesulitan dalam belajar. Namun yang paling membekas bagiku bukan hanya kecerdasan mereka, melainkan cara mereka menyambut kami. Senyum tulus, sapaan hangat, dan tatapan mata penuh antusias membuat segala lelah perjalanan seolah hilang begitu saja.

Aku masih mengingat bagaimana mereka berlari menyambut kami dengan wajah penuh kebahagiaan. Kehadiran kami di sana bukan sekadar sebagai relawan, tetapi sebagai seorang teman yang turut berbagi pengalaman. Di momen itu aku sadar, terkadang hal paling sederhana seperti hadir dan mendengarkan ternyata bisa sangat berarti bagi seseorang.

Di sana aku mengajar, bermain, tertawa, dan belajar bersama mereka. Namun sesungguhnya, akulah yang paling banyak belajar. Aku belajar tentang ketulusan, tentang semangat yang tidak bergantung pada fasilitas, dan tentang mimpi yang tetap hidup di tengah keterbatasan.

Perjalanan ini juga mempertemukanku dengan teman-teman relawan yang luar biasa. Kami berasal dari jurusan yang berbeda, kampus yang berbeda, dengan cerita hidup yang berbeda pula. Namun di tempat itu, perbedaan terasa menjadi kekuatan. Kami tertawa bersama, saling membantu melewati perjalanan yang berat, berbagi cerita, dan saling menguatkan. Rasanya seperti dipertemukan dengan keluarga baru yang dipersatukan oleh tujuan yang sama, yaitu mengabdi dan berbagi.

Di tengah perjalanan pengabdian itu, aku juga sedang berada di fase akhir perjalananku sebagai mahasiswa. Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang menyelesaikan penelitian, terkadang aku begitu sibuk memikirkan skripsi, target, dan masa depan. Namun Desa Watangcani mengajarkanku sesuatu. Bahwa di tengah segala kecemasan tentang masa depan, masih ada anak-anak di pelosok yang setiap hari berjuang hanya untuk mendapatkan kesempatan belajar. Dan mereka tetap tersenyum. Tetap bersemangat.

Malam di Desa Watangcani terasa begitu tenang. Di bawah langit yang gelap dan udara dingin pegunungan, aku duduk sambil memikirkan banyak hal. Dalam hati aku berkata,

    “Tuhan, di tempat yang jauh ini, Kau titipkan anak-anak hebat dengan mimpi yang besar. Mereka     mungkin hidup dalam keterbatasan, tetapi cahaya mereka begitu terang. Semoga selalu ada orang-orang yang datang untuk menjaga cahaya itu tetap menyala.”

Hari-hari di sana berlalu begitu cepat. Hingga akhirnya tiba waktu untuk pulang. Rasanya berat meninggalkan tempat yang sederhana namun penuh makna itu. Perjalanan pulang terasa berbeda. Jalan yang sama, tanjakan yang sama, tetapi hati yang kubawa tidak lagi sama.

Desa Watangcani mungkin tidak banyak dikenal orang. Sekolah yang ada di Desa Lurae mungkin tidak memiliki fasilitas yang lengkap. Namun di tempat itulah aku menemukan arti keteguhan, ketulusan, dan harapan. Aku menemukan anak-anak kecil yang tetap bercita-cita tinggi meski dunia belum sepenuhnya berpihak pada mereka.

Kini, ketika aku kembali pada rutinitas dan perjuangan menyelesaikan penelitian sebagai mahasiswa akhir, aku selalu mengingat mereka. Anak-anak yang mengajarkanku bahwa ''pendidikan bukan hanya tentang gedung dan fasilitas, tetapi tentang semangat untuk terus belajar dan orang-orang yang mau hadir untuk membersamai''

Dan aku tahu, di balik pegunungan yang ada di Desa Watangcani yang nun jauh itu, ada senyum-senyum kecil yang masih menunggu untuk disapa, ada mimpi-mimpi besar yang terus tumbuh, dan ada cahaya-cahaya kecil yang tidak boleh dibiarkan padam.

Refleksi ini dipersembahkan untuk setiap anak di pelosok negeri yang terus belajar di tengah keterbatasan, serta untuk para relawan yang memilih hadir dan berjalan jauh demi menjaga harapan tetap hidup. Karena sejatinya, perjalanan pengabdian bukan hanya tentang mengajar, tetapi tentang pulang dengan hati yang telah diubah. Tetaplah berbahagia dan terus menginspirasi.


With Love 

Kak Aisyah

 

#Komunitas_KUN

#DariSudutNegeriKitaMenginspirasi

 

 

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama