Haloo, sobat KUNers! Berjumpa kembali bersama MinKUN👋🤩
MinKUN kembali memberikan sajian refleksi yang ditulis oleh salah satu relawan dari SEJARA XLII kak Wilda. Refleksi adalah segelintir perjalanan serta pengalaman mengenai kegiatan Sekolah Jejak Nusantara (SEJARA) yang dituangkan melalui media tulisan oleh para relawan SEJARA.
Beragam jenis kisah mulai dari ulasan bersifat bahagia, haru, lucu, unik, dan berbagai jenis cerita lainnya dituangkan sebebas mungkin berdasarkan pengalaman mengikuti kegiatan SEJARA dari kakak-kakak relawan. Tanpa banyak basa-basi lagi, mari simak bersama uraian refleksi berikut ini :
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, perkenalkan saya Wildayani, mahasiswa semester 6 UIN Alauddin Makassar.
SEJARA XLII menjadi pengalaman pertama saya terjun langsung ke pelosok untuk mengajar. Sebelumnya, saya tidak pernah mendaki, tidak pernah pergi ke daerah terpencil, dan terus terang, saya tidak tahu apakah saya cukup kuat untuk itu. Tapi ada rasa ingin tahu yang lebih besar dari rasa takut itu, dan akhirnya saya memilih untuk hadir, untuk mencoba, untuk melangkah.
Perjalanan menuju Dusun Lurae adalah pelajaran pertama yang tidak ada di dalam buku mana pun. Jalan yang kami lalui bukan jalan biasa, berlumpur, licin, penuh bebatuan kerikil, tanjakan dan turunan yang membuat napas terengah-engah. Di beberapa titik kami harus berhenti untuk memakai jas hujan karena hujan tiba-tiba mengguyur tanpa permisi. Ban motor kami kempes di tengah jalan, dan waktu yang seharusnya bisa lebih singkat pun menjadi jauh lebih panjang. Ketika akhirnya harus melanjutkan dengan berjalan kaki, ransel berat di punggung dan kayu yang saya pungut dari pinggir jalan menjadi satu-satunya penopang. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang tidak bisa saya tukar dengan kemudahan apa pun yaiti pemandangan yang luar biasa indah, langit malam yang bertabur bintang, dan perasaan bahwa setiap langkah membawa saya pada sesuatu yang bermakna.
Dan ketika akhirnya saya tiba dan bertemu dengan adik-adik di sana, semua lelah itu seolah menemukan tempatnya. Yang paling pertama dan paling dalam menyentuh hati saya adalah semangat mereka. Untuk sampai ke sekolah, mereka harus menempuh perjalanan puluhan menit hingga hampir satu jam, melewati medan yang tidak jauh berbeda dengan yang kami lalui. Tapi mereka datang. Setiap hari, mereka datang. Tanpa keluhan, tanpa alasan untuk tidak hadir. Dengan langkah ringan dan senyum yang sudah tersungging sejak pagi.
Fasilitas yang ada jauh dari kata lengkap. Tidak ada gedung megah, tidak ada peralatan belajar yang canggih. Tapi justru dli situlah saya belajar sesuatu yang tidak pernah saya duga sebelumnya, bahwa semangat belajar tidak tumbuh dari fasilitas, ia tumbuh dari dalam
Adik- adik itu belajar dengan sepenuh hati, menulis dengan pensil yang ditekan kuat-kuat di atas kertas, mengerjakan soal dengan tekun tanpa mau menyerah lebih dulu. Ada yang salah, lalu menghapus, lalu mencoba lagi tanpa drama, tanpa keluhan. Menyaksikan itu, saya merasa ditampar pelan oleh kenyataan: betapa sering kita yang punya lebih banyak justru lebih mudah menyerah.
“Mereka tidak punya banyak, tapi mereka hadir sepenuhnya. Semangat mereka tidak bergantung pada keadaan. Mereka bersinar bukan karena semuanya sempurna, tapi karena cahaya itu memang sudah ada di dalar diri mereka sejak lama.”
Pengalaman ini mengajarkan saya tentang arti kuat yang sesungguhnya. Kuat bukan berarti tidak pernah lelah. Kuat adalah ketika lelah itu datang, kita tetap melangkah. Kuat adalah ketika medan tidak bersahabat, kita tidak mencari alasan untuk berbalik. Di sepanjang perjalanan itu, saya belajar untuk ikhlas. Ikhlas terhadap ketidaknyamanan, ikhlas terhadap keterbatasan, dan ikhlas bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai rencana untuk tetap menjadi sesuatu yang berharga. Dan dari adik-adik itu,saya belajar bersyukur dengan cara yang jauh lebih dalam dari sebelumnya. Bersyukur atas akses yang selama ini saya anggap biasa. Bersyukur atas kemudahan yang tidak pernah saya sadari sebagai hadiah.
Tapi perjalanan ini tidak akan menjadi apa-apa tanpa orang-orang yang ada di Dalamnya.Teman-teman relawan KUN adalah salah satu hadiah terbesar dari perjalanan ini. Kami melewati lelah yang sama, tertawa di momen yang sama, saling menguatkan tanpa harus banyak bicara. Ada kebersamaan yang tumbuh bukan dari waktu yang panjang, tapi dari pengalaman yang dalam. Kebersamaan yang terasa hangat bahkan saat udara gunung menggigit di malam hari. Dan saya pulang dengan tidak hanya membawa kenangan tentang tempat itu, tapi juga tentang orang-orang yang menemani saya di sepanjang jalannya.
SEJARA XLIl adalah pengalaman pertama saya mengajar di pelosok, dan ia meninggalkan jejak yang jauh lebih dalam dari yang pernah saya bayangkan. La mengajarkan saya bahwa keberanian bukan soal tidak merasa takut, tapi soal tetap melangkah meski takut itu ada. Bahwa keterbatasan bisa menjadi guru terbaik jika kita mau membuka diri untuk belajar darinya. Dan bahwa di balik gunung yang jauh, di ujung jalan yang berlumpur dan licin, ada anak-anak luar biasa yang cahayanya tidak pernah padam yang dengan caranya senıdiri, mengajarkan saya arti hadir, arti bersyukur, dan arti hidup yang sesungguhnya.
Terima kasih, KUN. Terima kasih, teman-teman relawan angkatan 42. Terima kasih, adik-adikku di Dusun Lurae.
Sampai kita bertemu lagi.🫶
