Refleksi Oleh Kak Eca : Jejak Kecil di Lereng Latimojong

 


Jejak Kecil di Lereng Latimojong
     
     Perkenalkan, saya Rezah, mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Palopo. Dari dulu saya punya keinginan untuk menjadi relawan. Setiap melihat orang-orang yang turun langsung membantu masyarakat, saya selalu berpikir, "Semoga suatu hari nanti saya juga bisa." Kesempatan itu akhirnya datang saat saya dipertemukan dengan SEJARA XXIV. Buat saya, ini bukan sekadar kegiatan pengabdian, tapi awal dari perjalanan yang sudah lama saya impikan.

             Sebelum berangkat ke lokasi, kami melewati banyak proses. Ada beberapa kali meet up untuk saling kenal, belajar, berdiskusi, dan mempersiapkan diri. Semakin banyak belajar, justru saya semakin merasa masih banyak yang belum saya tahu. Tapi dari situ saya sadar kalau menjadi relawan bukan soal merasa paling hebat atau paling siap. Yang penting adalah mau terus belajar dan mau berbagi dengan kemampuan yang kita punya.

           Kamis, 18 Juni 2026, perjalanan kami akhirnya dimulai. Kurang lebih empat jam kami melewati jalan yang berliku, menanjak, dan berbatu. Di beberapa titik, saya sempat berpikir, "Apa memang setiap hari jalan ini yang harus dilewati?" Rasanya cukup melelahkan. Tapi kemudian saya teringat adik-adik yang setiap hari harus melewati jalan seperti ini hanya untuk pergi ke sekolah. Pikiran itu membuat rasa lelah kami terasa jauh lebih ringan.

                  Tujuan kami adalah SD Negeri 641 Pangi, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu. Sekolah sederhana di tengah pegunungan itu menyambut kami dengan udara yang sejuk dan senyum hangat dari adik-adik yang penuh semangat. Meski fasilitasnya terbatas, semangat mereka untuk belajar benar-benar luar biasa. Melihat mereka begitu antusias membuat saya ikut bersemangat.

        Selama di sana, kami belajar bersama, bermain, bercerita, dan saling mengenal. Kami memang tidak membawa sesuatu yang besar. Hanya sedikit ilmu, pengalaman, dan waktu yang bisa kami bagikan. Tapi ternyata, perhatian dan kebersamaan itu sudah membuat mereka sangat senang. Dari situ saya belajar kalau hal-hal sederhana bisa sangat berarti ketika dilakukan dengan tulus.

           Pengalaman di SD Negeri 641 Pangi membuat saya sadar kalau masih banyak anak-anak di pelosok yang harus berjuang lebih keras demi mendapatkan pendidikan. Saya juga belajar bahwa perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, perubahan bisa dimulai dari langkah kecil dan dari orang-orang biasa yang memilih untuk peduli.

           SEJARA XXIV menjadi pengalaman yang tidak akan saya lupakan. Saya datang dengan banyak keraguan, tapi pulang dengan banyak pelajaran. Saya belajar bahwa menjadi relawan bukan berarti harus sempurna. Yang terpenting adalah mau hadir, mau belajar, dan mau memberi manfaat untuk orang lain. Saya berharap, ini bukan menjadi perjalanan terakhir saya sebagai relawan, melainkan awal dari banyak perjalanan baik berikutnya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama